Sabtu, 23 Juli 2011

Reinkarnasi Menurut Islam


Oleh : Moh. Subhan
Pendahuluan
Kata “reinkarnasi” asalnya dari kata re+in+carnis. Kata Latin carnis berarti daging. Incarnis artinya mempunyai bentuk manusia. Sedangkan reinkarnasi adalah masuknya jiwa ke dalam tubuh yang baru. Jadi, jiwanya adalah jiwa yang sudah ada, tapi jasadnya baru. Maka, reinkarnasi juga dapat disebut kelahiran kembali. Kondisi ini disebut pula sebagai migrasi jiwa. Artinya, jasad lama ditinggalkan alias mati, dan pada suatu kesempatan jiwa tersebut masuk ke dalam jasad baru, alias menjadi bayi kembali. Dalam bahasa Inggris reinkarnasi disebut sebagai reborn atau reembodiment.
Bagi agama-agama di Timur, agama-agama yang tumbuh di India, Tibet, Cina, Jepang, dan di Kepulauan Nusantara; reinkarnasi bukan lagi sebagai hal yang aneh. Reinkarnasi bukan dipahami sebagai kepercayaan atau keimanan, tapi sebagai hukum alam.

Bagaimana dengan reinkarnasi di Dunia Barat? Sumber dasar filsafat Barat adalah budaya Yunani dan Romawi. Pada kedua budaya tersebut, reinkarnasi diterima sebagai kepercayaan. Di antara filsuf Yunani kuno, Plato yang hidup pada abad ke 5–4 seb. M, percaya bahwa jiwa tidak pernah mati, dan mengalami reinkarnasi berkali-kali. Lalu, kapan reinkarnasi itu berakhir? Ya, segala sesuatu pasti berakhir. Menurut agama Hindu, reinkarnasi berakhir bila sang manusia mengalami moksa. Menurut agama Buddha kelahiran kembali tak akan terjadi lagi bila roda samsara telah berhenti. Sang Jiwa selanjutnya ke alam nirwana. Tujuan hidup dan Mati menurut ayat-ayat Al-Qur’an ke alam
Sebagai seorang muslim tentu saya akan menguraikan reinkarnasi ini berdasarkan dalil-dalil Alquran dan Hadis. Dan, dalil-dalil ini tergolong ayat-ayat mutasyabihat. Ayat-ayat yang perlu dipahami maknanya dengan seksama. Oleh kalangan awam ayat-ayat ini biasanya dilepas begitu saja, dan tidak ada usaha memahaminya. Padahal, Alquran telah memerintahkan pembacanya untuk menggunakan akal atau pikiran untuk dapat mengerti makna yang tersembunyi dibalik makna literalnya. Marilah kita simak ayat QS al-Mulk (67) Alladzî khalaqa al-mawta wa al-hayâta li yabluwakum ayyukum ahsanu ‘amalâ wa huwaal- ‘azîza l- ghafûr.
Dia yang menciptakan kematian dan kehidupan. Dengan cara itu Dia mendidik dan melatihmu, dan untuk memberikan nilai bagi siapa yang lebih baik amalannya. Dan, Dia itu Maha Perkasa dan Maha Melindungi.
Pertama, mati dan hidup itu diciptakan. Hal semacam ini sering luput dari pemahaman. Dikiranya, yang diciptakan Tuhan itu hanya hidup. Mati ada di dalam wilayah ciptaan Tuhan. Demikian pula hidup. Tentu saja yang dimaksud di sini bukanlah “hidup sejati”. Tapi, hidup di dalam jasad. Jadi, hidup di dalam jasad, dan mati jasad itu ciptaan.

Jasad atau raga hanyalah pakaian bagi “jiwa”, soul. Jika raga tidak bisa dipakai alias tidak berfungsi, maka jiwa akan meninggalkannya. Tetapi, jika jiwa hanya sekadar meninggalkan jasad, belum tentu jasad mengalami kematian. Dalam peristiwa OOBE (Out Of the Body Experience), jiwa dapat keluar tubuh dan kembali lagi. Tidur nyenyak pun dapat membuat jiwa ke luar dari tubuh untuk beranjang sana-sini. Hal semacam ini dijelaskan dalam QS al-Zumar [39]:42, sebagai berikut.
Allah yang memegang jiwa manusia ketika matinya dan di waktu tidur bagi yang belum mati. Dan, ditahan-Nya jiwa yang telah ditetapkan kematiannya, sedangkan yang belum mati dilepaskan hingga masa ajal tiba. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat ayat-ayat bagi orang yang berpikir.
Selama garis kematian belum tiba, jiwa dapat bepergian kesana-kemari. Menurut mistik Timur, jiwa dan raga ini ada tali pengikat yang disebut benang perak atau silver cord. Selama benang ini tidak putus, maka orang yang mengalami OOBE tidak akan tertimpa kematian.
Bila dilihat dari sudut energi, orang yang mengalami mati itu telah kehilangan energi prana, elan vital, atau premananya (Jawa). Baik benang perak atau premana tidak perlu dipertentangkan. Keduanya merupakan elemen kehidupan. Jika salah satunya rusak, orangnya akan mati. Artinya, bilamana elemen-elemen yang membangun hidup itu rusak alias tidak berfungsi, jiwa tak akan dapat beroperasi lagi. Jiwa akan meninggalkan tubuh yang demikian itu.
Kedua, penciptaan mati dan hidup itu dimaksudkan untuk mendidik dan melatih manusia agar manusia dapat beramal kebajikan. Jadi, jelas sekali bahwa proses mati-hidup-mati-hidup di dunia ini dimaksudkan untuk melatih manusia. Dunia ini sekolahan. Dunia adalah ladang bagi kehidupan berikutnya (Hadis). Siapa yang menanam, ia pula yang mengetam. Dan, dalam QS 51:56 disebutkan bahwa tujuan penciptaan manusia itu adalah ma’rifat Allah, mengenal Allah. Untuk apa? Agar manusia dapat kembali ke asalnya, yaitu kembali kepada Allah.
Seringkali balasan amal itu dipahami sebagai balasan atau imbalan yang akan diberikan kepada manusia setelah dibangkitkan dari kuburnya di alam akhirat setelah hancur-leburnya bumi. Hal ini tentu saja tidak sesuai dengan pernyataan-pernyataan tentang cepatnya perhitungan Tuhan terhadap para hamban-Nya. Lebih dari 10 ayat yang menyatakan bahwa hisab Tuhan atau perhitungan amal baik dan buruk manusia itu amat cepat. Kalau hukuman itu ditangguhkan hingga hari kiamat atau setelah hancurnya alam semesta, maka ada orang yang sudah jutaan tahun dalam masa menunggu, dan bagi yang hidup menjelang hancurnya alam semesta malah akan menerimanya lebih cepat. Tentu, hal ini akan bertentangan dengan kasih sayang Tuhan, sekaligus bertentangan dengan keadilan-Nya
Balasan dan imbalan dari Tuhan terhadap amalan manusia itu amat cepat alias segera. Dan, perhitungan itu tidak sperti nilai rapor. Apabila nilai rapor sudah diperhitungkan nilai plus-minusnya, sehingga seseorang tinggal terima jadi, apakah ia naik kelas atau tinggal kelas; tidak demikian dengan perhitungan Tuhan. Dalam QS al-Zalzalah [99]:7–8
Disebutkan sebagai berikut: Faman ya‘mal mitsqâla dzarrah khayran yarâh Waman ya‘mal mitsqâla dzarrah syarranyarâh.
Barangsiapa yang beramal kebajikan sebesar zarah, maka buah amalnya itu akan dilihatnya.Dan, barangsiapa berbuat keburukan sebesar zarah, maka balasan amal buruknya itupun akan dilihatnya.
Jadi, tidak ada perhitungan dengan sistem yang dapat mencapai angka 6 atau lebih akan naik kelas atau akan tinggal di surga, dan yang tidak dapat angka indeks prestasi itu akan tinggal di neraka. Tidak. Tidak demikian! Bahkan bagi yang beramal keburukan sekecil debu pun akan merasakan balasannya. Sebaliknya, yang beramal kebaikan sekecil zarah pun akan merasakannya pula balasan Tuhan itu amat cepat.
Dalam bahasa Arab disebut sarî‘ al-hisâb. Balasan yang cepat artinya suatu balasan yang dapat diamati di dunia ini. Dan, sistem perhitungannya pun sebagaimana dikemukakan pada ayat-ayat di Surah al-Zalzalah tersebut. Itu artinya balasan atau imbalan itu berlangsung di dunia ini. Caranya melalui kelahiran kembali. Hal ini disebut dalam QS 6:94, bahwa manusia datang sendiri-sendiri sebagaimana kejadian pada mulanya. Dan, mengenai penciptaan pada kali yang lain ini akan jelas sekali diterangkan dalam QS 29: 19–21sebagaiberikut.Dan, apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan pada awalnya dan mengulanginya.
Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah.Katakanlah: “Berjalanlah di bumi, maka gunakan nalarmu untuk mema-hami bagaimana Allah menciptakan pada mulanya, kemudian menciptakannya pada kali yang lain. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.Allah mengazab orang yang menghendaki (azab) dan memberikan rahmat kepada yang menghendakinya. Dan, hanya kepada-Nya kamu dikembalikan.
Perhatikan dengan seksama ayat tersebut. Pada ayat yang pertama, isi perintah-Nya adalah memperhatikan cara Allah menciptakan manusia. Ya, yang perlu diperhatikan adalah cara Allah menciptakan manusia pada mulanya. Bagaimana? Ternyata, caranya melalui pertemuan sel telur pada wanita dan sel sperma dari pria. Kemudian, keduanya bersatu, membelah diri, dan akhirnya tumbuh menjadi janin di dalam perut ibu. Lalu, lahir ke bumi sesuai dengan garis nasibnya. Ada yang dilahirkan di tengah orang berada, dan ada yang dilahirkan melalui keluarga papa.
Setelah paham tentang penciptaan pada pertamanya, maka kita diminta memperhatikan caranya Allah mengulangi penciptaan itu. Kita diperintah untuk memperhatikan pada penciptaan ulangan, agar kita ngeh, kita paham benar-benar bagaimana proses penciptaan manusia.
Ayat yang kedua, memerintah kita untuk menjelajah bumi ini. Kita diperintah untuk melakukan study tour, atau widya wisata. Untuk apa? Untuk mengerti tentang bagaimana Allah menciptakan pada mulanya, dan menciptakan pada kali lainnya. Coba renungkan dalam-dalam! Seandainya penciptaan pada kali lain itu terjadi setelah dunia ini hancur lebur, ya akan menjadi perintah yang salah. Mengapa? Karena penyelidikan penciptaan itu cukup di bumi ini, baik penciptaan pada mulanya maupun pada kali yang lain. Itu artinya kebangkitan itu di bumi ini. Yaitu, berupa kelahiran kembali. Ya, lahir kembali adalah penciptaan pada kali yang lain. Kalau bumi sudah hancur, maka kita tidak akan dapat melakukan studi tentang kebangkitan. Kita tidak dapat memperoleh pemahaman tentang itu.
Nah, pada penciptaan kali yang lain itulah seorang manusia yang dilahirkan menerima azab atau mendapat rahmat. Azab atau rahmat yang diterimanya itu berdasarkan kehendak orang yang dilahirkan kembali. Jadi, bukan karena kehendak Tuhan. Mengapa? Karena Tuhan sama sekali tidak merugikan hamba-Nya. Dalam QS 3:117 disebutkan bahwa Allah tidak menganiaya mereka, tetapi mereka yang menganiaya diri mereka sendiri. Sedangkan dalam QS 10:44 disebutkan bahwa, “Sesungguhnya Allah tidak menzalimi manusia sedikit pun, akan tetapi manusia sendiri yang berbuat zalim terhadap dirinya sendiri.”
Jelas sudah, bahwa bukan Allah yang menghendaki azab bagi manusia. Allah hanyalah menjalankan roda hukum alam yang telah ditetapkan-Nya. Sedangkan manusia itu sendiri adalah bagian dari hukum alam yang telah ditetapkan Tuhan. Karena hukum alam berjalan di bawah kehendak Tuhan, maka seakan-akan pahala dan balasan itu atas Kehendak-Nya. Sayang sekali, dalam berbagai terjemahan, kata man yasyâ’ diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia Allah menghendaki. Tentu saja terjemahan demikian melanggar pernyataan Allah bahwa Dia tidak merugikan manusia sedikit pun.

Apabila kita memahami bahwa Allah tidak merugikan manusia sedikit pun, lalu siapa yang membuat ada yang bernasib baik, dan ada yang bernasib buruk? Lalu, mengapa ada orang yang mulus hidupnya dan ada yang tidak luput dari bencana? Apa ada garis tangan seseorang?

Jawabnya, semua itu akibat ulah dan perbuatan orang yang tertimpa bencana itu sendiri. Kalau seseorang bernasib baik maka itu akibat amal kebajikan orang itu sendiri. Amalan kapan? Yaitu, amal baik dan buruk yang pernah dikerjakan pada kehidupan yang lampau. Jadi, takdir baik dan buruk itu digoreskan oleh seseorang pada masa lampaunya. Jika takdir baik dan buruk itu ditetapkan oleh Tuhan di zaman azali, maka itu artinya Tuhan telah berbuat zalim bagi sebagian hamba-Nya. Jika sudah demikian, berarti Tuhan telah pilih kasih terhadap hamba-Nya. Padahal, Tuhan tidak merugikan sedikit pun kepada manusia. Maka, jelas Tuhan tidak menetapkan takdir sebagaimana yang dipahami oleh sebagian besar umat Islam hingga sekarang ini. Maka, kita sekarang ini bukanlah kita yang baru dicipta. Tapi, kita sekarang ini adalah manusia yang telah lahir beberapa kali, bahkanratusanataubahkanribuankali.

Mengenai petaka atau bencana yang menimpa manusia di bumi ini, dapat dirujuk pada ayat-ayat berikut. Perhatikan dengan seksama dua ayat di bawah ini.
Dan, musibah apa pun yang menimpamu, maka itu disebabkan oleh tindakanmu sendiri, danAllahmengampunisebagianbesarkesalahanmu.

Dan, kalian tidak dapat melepaskan diri dari bumi ini. Bagimu, tiada pelindung dan penolongselainAllah(QS42:30-31)

Apa saja jenis musibah atau bencana yang menimpa seseorang, ternyata itu akibat perbuatan tangannya sendiri. Bukan oleh orang lain. Bukan oleh Tuhan. Bukan oleh setan dan jin. Ternyata semua itu disebabkan oleh ulah yang tertimpa musibah itu. Termasuk kalau ada bayi yang dilahirkan cacat. Itu disebabkan oleh perbuatan jiwa si bayi tersebut.
Banyak orang yang tidak memahami tentang kelahiran kembali. Atau, reinkarnasi. Sehingga, kalau ada bayi cacat maka itu dianggap oleh kondisi kesehatan orangtuanya. Misalnya, ada kerusakan genetis. Penyakit dalam kandungan. Oleh sebab-sebab lain. Atau, karena dalam peperangan si bayi terkena peluru nyasar sehingga meski terselamatkan ia kehilangan anggota badannya. Umumnya orang tidak mengerti bahwa itu disebabkan oleh hutang-piutang karma atau perbuatan.
Memang, ada proses karma. Pertama si orangtua mempunyai karma negatif, atau karma buruk. Sehingga ketika dia mengandung, janin yang dikandungnya itu cacat. Jadi, yang cacat itu raga si bayi. Sedangkan raga itu sendiri ya tidak ada maknanya. Nah, ketika raga bayi itu cacat, maka jiwa yang dimasukkan ke dalam raga yang cacat itu adalah jiwa yang hutang karma. Jiwa yang pada kehidupan masa lalunya banyak berbuat keburukan. Dus, bayi yang dilahirkan cacat itu merupakan kaitan karma orangtua dan bayi tersebut. Sama-sama punya karma buruk pada kehidupan masa lalunya. Meskipun hal ini tidak berarti ada kaitan karma buruk antara orangtua dan si bayi pada kehidupan lalunya.

Kembali kepada ayat di atas. Disebutkan bahwa Tuhan mengampuni sebagian besar kesalahan manusia. Apa kaitannya dengan reinkarnasi? Jika Tuhan tidak mengampuni sebagian besar kesalahan manusia, maka manusia tidak akan mengalami kemajuan dalam hidupnya. Bayangkan, jika hutang seratus unit harus dibayar 100 unit; apa yang terjadi? Tak ada perubahan di dalam kehidupan manusia. Tuhan itu Maha Pemaaf. Sehingga, Tuhan tak akan mewujudkan balasan lebih daripada keburukan yang pernah dibuat hamba-Nya. Tuhan bukanlah tukang balas. Namun, kita pun harus paham bahwa mekanismesebab-akibat itu merupakan ketetapan-Nya.
Dalam bahasa agama, cara kerja alam raya dalam kaitannya dengan sebab dan akibat disebut pemberian pahala untuk kebaikan dan pembalasan atau azab bagi kejahatan. Karena rahman dan rahim-Nya, kebaikan akan mendatangkan kebaikan berlipat ganda, tapi keburukan hanya mengakibat-kan keburukan yang setara atau kurang. Dalam bahasa psikologis alam raya itu bersifat memaafkan. Hal semacam inilah yang disebut dalam Alquran sebagai kebajikan Tuhan. Dia memaafkan sebagian besar kesalahan yang pernah dilakukan manusia.
Pada QS 42: 31, terdapat peringatan dari Tuhan. Apa isinya? Secara normal, manusia tidak akan dapat meninggalkan bumi ini. Salah satu unsur pembentuk fisik manusia adalah bumi. Maka, secara alami manusia tertarik oleh keindahan bumi. Dan, gaya tarik bumi terhadap unsur-unsur fisik manusia, yaitu bumi, air, api dan udara, sangat kuat. Sehingga manusia cenderung untuk kembali hidup di bumi. Hal semacam ini dikabarkan dalam QS 7:25, bahwa manusia dihidupkan oleh Tuhan di bumi, dimatikan di bumi dan dibangkitkan di bumijuga. Dus, jikalau manusia hanya mengikuti hukum alam, tidak ada aksi dari manusianya sendiri untuk melepaskan diri dari bumi, maka selamanya ia akan tinggal di bumi. Sehingga, kenikmatan surga pun sebatas kenikmatan yang tersedia di bumi ini. Maka, pada penutup ayat 31 disebutkan bahwa bagi manusia tak ada pelindung dan penolongnya selain Allah. Dengan kata lain, pelindung dan penolong manusia itu hanyalah Allah.
Kata “Allah” dalam Alquran adalah sebutan bagi Tuhan semesta alam. Maka, bagi yang bukan orang Islam tidak perlu rancu terhadap sebeutan Tuhan. Bahkan di Alquran sendiri Tuhan dapat disebut berdasarkan Nama-nama baik-Nya (QS 17: 110). Bagi khazanah “New Age”, Tuhan disebut sebagai “Sang Maha Diri”, the Absolute Reality atau Absolute Self. Sedang-kan diri manusia ya “sang diri” atau diri sejati saja. Maka, tujuan hidup manusia adalah kembalinya “sang diri” kepada “Sang Maha Diri”.

Perjalanan sang diri kepada Tuhannya dalam hitungan waktu fisik amatlah panjang. Manusia yang sudah terkungkung oleh ruang-waktu, harus menempuhnya dalam hitungan jutaan tahun bumi. Jika satu generasi perlu hadir selama 50–100 tahun, maka perlu puluhan hingga ribuan kali manusia dapat menyempurnakan dirinya. Dengan kata lain, untuk dapat kembali ke alam kelanggengan atau paling tidak keluar dari bumi manusia perlu dilahir-kan berkali-kali. Manusia perlu mengikuti kala-cakra, atau putaran roda kehidupan di bumi.
Untuk kembali kepada-Nya, ya hanya dengan cara berlindung kepda-Nya semata. Jika kita masih berlindung kepada yang lain, kepada selain-Nya yang notabene hamba-Nya, maka kita pasti menderita di bumi ini. Makanya, semua agama yang ada memerintahkan manusia untuk berlindung dan mohon pertolongan kepada-Nya semata. Inilah yang disebut tauhid dalam agama Islam. Meng-Esa-kan Tuhan.
Musibah atau bencana di bumi sebenarnya merupakan pelajaran agar manusia dapat menyadari kesalahannya dan kembali kepada jalan Tuhan. Namanya saja kembali kepada-Nya, maka jalan yang harus ditempuh pun jalan-Nya yang disebut shirâth al-mustaqîm, jalan lurus. Yaitu, jalan untuk hamemayu hayuning bawana dan tidak menghambakan diri kepada yang selain-Nya.
Perhatikan QS al-Rûm [30]: 41 – 45 sebagai berikut. Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat perbuatan manusia. Allah bermaksud untuk membuat mereka itu merasakan sebagian akibat perbuatan mereka agar mereka dapat kembali (kepada jalan-Nya).
Katakanlah: “Lakukan perjalanan di bumi dan perhatikan bagaimana akibat perbuatan orang-orang sebelummu. Sebagian besar mereka itu merupakan orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.
Oleh karena itu, hadapkanlah dirimu kepada agama yang lurus sebelum datangnya hari dari Allah yang tidak dapat ditolak. Pada hari itu mereka terpisah-pisah.
Barangsiapa yang kafir maka ia sendiri yang menanggung kekafirannya, dan bagi yang beramal saleh maka buah kebaikannya untuk dirinya sendiri.
Allah melimpahkan karunia-Nya kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Sesungguhnya Dia tidak mencintai orang-orang yang mengingkari-Nya.
Pertama, ketika ayat ini diturunkan, daratan dan laut telah mengalami kerusakan. Apalagi sekarang! Dan, dinyatakan dengan tegas bahwa kerusa-kan itu akibat perbuatan manusia. Bukan disebabkan oleh perilaku hewan. Artinya, potensi kerusakan itu berasal dari manusia. Ya, akibat ulah manusia rusaklah daratan dan laut. Ternyata, kerusakan di darat dan laut itu dibiarkan oleh Allah agar manusia (yang melakukan kerusakan itu) merasakan seba-gian dari akibat perbuatannya. Untuk apa? Agar yang pernah melakukan kerusakan itu mendapat pelajaran untuk kembali kepada jalan yang benar. Ya, kembali kepada jalan-Nya.
Jadi, yang merasakan akibat perbuatannya itu ya yang pernah hidup pada masa lampau dan berbuat kerusakan. Bukan orang yang pertama kali dilahirkan di bumi ini. Bukankah Tuhan telah menyatakan bahwa Dia tidak merugikan manusia sedikit pun? Tidak mungkin manusia yang tidak berbuat kesalahan dikenakan azab. Dan, karena kasih-sayang Tuhan pula manusia yang dihidupkan lagi itu merasakan sebagian saja dari akibat perbuatannya. Manusia tidak merasakan seluruh akibat perbuatan buruknya. Hal semacam inilah yang disebutkan pada ayat lain bahwa Tuhan itu memaafkan sebagian besar kesalahan manusia.
Kedua, lagi-lagi kita diperintah Tuhan untuk melakukan perjalanan di muka bumi ini. Tapi, pada ayat ini kita diperintah untuk memperhatikan akibat perbuatan buruk orang-orang yang hidup pada masa lalu. Apa kata ayat tersebut? Banyaknya kerusakan di darat dan laut itu ternyata dilakukan oleh orang-orang musyrik. Orang-orang yang menyekutukan Tuhan. Dus, orang yang menyekutukan Tuhan itu adalah orang yang membuat kerusakan di bumi ini. Jelas kan, bahwa mereka bukanlah orang yang beribadah di depan patung?.
Jelas, bahwa kemusyrikan itu lebih terkait dengan amal perbuatan manusia. Jika amalan itu merusak bumi, maka itu tindakan syirik. Jika perusakan bumi itu merupakan perilaku seseorang, maka orang itu disebut sebagai orang musyrik alias menyekutukan Tuhan. Agar tidak terjerumus ke jurang kemusyrikan manusia diperintah untuk menghadapkan dirinya kepada agama, jalan hidup, yang lurus. Yaitu, jalan hidup yang tidak menimbulkan kerusakan dan merugikan orang lain dan dirinya sendiri. Jalan hidup yang demikian inilah yang disebut “islam” (sebagai generik). Dalam kehidupan aktual, islam yang generik ini bisa disebut Islam, Yahudi, Kristen, Hindu, Buddha, dan lain-lainnya.

Ketiga, manusia harus berusaha berada di jalan yang lurus. Di tempat lain disebut sebagai orang yang bertakwa. Usaha ini harus ditempuh sebelum datangnya hari dari Allah yang disebut sebagai “hari yang tidak dapat ditolak”. Hari apa gerangan? Itulah hari kematian dan sekaligus kebangkitan seseorang. Karena dalam satu hari orang yang mati itu banyak, maka yang dibangkitkan pun banyak. Di mana dibangkitkan? Ya, di bumi ini! Lihat kembali QS 7:25.
Manusia dibangkitkan melalui kelahiran melalui ibunya sendiri-sendiri. Dalam ayat mereka disebut menjadi terpisah-pisah. Dan, disebutkan pada ayat berikutnya bahwa mereka yang kafir ya akan menanggung perbuatan kekafirannya. Yaitu, dilahirkan sebagai manusia yang sengsara. Sedangkan yang dahulunya berbuat amal saleh, ya akan dilahirkan di tempat yang penuh anugerah Tuhan.
Nah, sekarang perhatikan kata musyrik dan kafir. Identik kan? Kalau yang dirujuk itu sikap hidup, maka namanya musyrik. Tapi, kalau yang dirujuk itu keyakinan dan tindakannya yang mengingkari kebenaran, maka namanya kafir. Jadi, kafir itu tak ada kaitannya dengan agama yang dipeluk. Agama apa saja yang dipeluknya, kalau ia mengingkari kebenaran atau melakukan kerusakan maka ia termasuk orang kafir!

Keempat, Allah tidak mencintai orang-orang yang ingkar. Perhatikan pernyataan “tidak mencintai”, lâ yuhibbu! Ini tidak dapat diterjemahkan menjadi tidak menyukai. Berbeda! Allah tidak terlibat dalam suka dan tidak suka. Allah juga tidak terlibat dalam soal membenci atau tidak membenci. Allah itu bersifat mahabbah, mencintai hamba-Nya. Tetapi, kalau si hamba itu mengingkari-Nya, maka Dia tidak mencintainya.

Apa bedanya “tidak mencintainya” dengan “membenci”? Benci adalah perasaan tidak suka. Jadi, kalau Tuhan membenci berarti dalam diri Tuhan itu terkandung perasaan tidak suka. Ini tentu saja berlawanan dengan sifat-Nya yang rahman dan rahim. Jelas, tidak mungkin terjadi sifat yang saling berlawanan pada dirinya. Sifat Tuhan adalah Cinta. Maka, karena itu para ahli tasawuf menyebut Tuhan itu sendiri Cinta.

Cinta itu bukan suka! Cinta mengandung makna karunia. Artinya, sesuatu yang dicintai niscaya mendapat perhatian atau karunia dari yang mencintai. Jadi, kalau Tuhan mencintai seorang hamba, maka hamba itu akan mendapatkan cucuran rahmat dan karunia dari-Nya. Misalnya, sang hamba yang dicintai Tuhan itu akan mendapatkan perlindungan, pertolongan dan kenikmatan. Lha, kalau Tuhan “tidak mencintai” orang kafir, maka Dia membiarkan si kafir itu menerima akibat perbuatan-Nya.

Nah, apa yang diharapkan manusia? Tentu saja, rahmat-Nya. Kalau belum dapat melepaskan diri dari bumi ya perlindungan dan kenikmatan hidup di bumi. Dengan perlindungan-Nya itu seorang manusia dapat terus-menerus berusaha di jalan yang benar.

Dalil-dalil Reinkarnasi
Umat Islam merasa bahwa reinkarnasi itu tidak diajarkan dalam Islam. Bahkan pandangan tentang reinkarnasi dianggap bid’ah. Atau, pandangan sesat. Hal ini dapat dimengerti, karena reinkarnasi tidak dijelaskan secara eksplisit di dalam Alquran. Untuk dapat memahaminya kita harus benar-benar serius dalam menelaah ayat-ayat Alquran maupun Hadis.
Mengapa reinkarnasi di dalam Alquran tidak dijelaskan secara eksplisit dalam satu topik tersendiri? Karena, Alquran diwahyukan kepada Nabi sesuai dengan budaya Arab yang ada pada waktu itu. Dalam budaya Arab, kehidupan di akhirat saja diangap aneh. Kalau toh ada orang-orang Quraisy yang menerima pandangan tentang akhirat, sebenarnya itu merupakan pengaruh agama Yahudi, Nasrani dan Majusi.
Apa pandangan asli Arab tentang hidup sesudah mati? Tidak ada! Orang Arab pra-Islam berpandangan bahwa hidup ini hanya sekali saja. Hal ini direkam di beberapa ayat Alquran. Marilah kita baca dengan seksama rekaman Alquran terhadap kepercayaan orang-orang Arab pra-Islam.
6:29 – Dan, tentu mereka akan mengatakan: “Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan.”
23: 35-37 – “Apakah dia menjanjikan kepada kamu sekalian bahwa bila kamu telah mati, telah menjadi tanah dan tulang-belulang, kamu akan dikeluarkan? Jauh, jauh sekali (dari kebenaran), apa yang diancamkan kepadamu. Kehidupam kita itu tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan kita hidup, dan sekali-kali tidak akan dibangkitkan lagi.”
34:7 – “Dan orang-orang kafir berkata: ‘Maukah kamu kami tunjukkan seorang lelaki yang memberitakan kepadamu bahwa apabila badanmu telah hancur, sesungguhnya kamu benar-benar akan dibangkitkan dalam ciptaan baru?’”
44:35 – “Tidak ada kematian selain kematian kami yang pertama. Dan kami sekali-kali tidak dibangkitkan.”Ayat-ayat tersebut sudah jelas menggambarkan kepercayaan yang ada pada masyarakat Arab. Mereka itu tidak percaya bahwa kehidupan itu tidak berakhir dengan kematian. Mereka meyakini bahwa kehidupan ini sekali saja, dan kematian merupakan akhir bagi segalanya. Makanya, mereka itu hedonistis. Mereka itu hanya berusaha mencari kesenangan duniawi semata. Mereka tidak peduli bahwa kesenangan yang diusahakan itu merugikan orang lain atau tidak.
Mereka kaget luar biasa ketika Nabi Muhammad mengajarkan tentang kehidupan setelah kematian. Baru dinyatakan ada kehidupan baru sebagai ciptaan baru setelah mati, mereka itu sudah menolak. Apalagi kalau mereka itu dijelaskan secara gamblang bahwa kehidupan itu bisa berlanjut berkali-kali, mungkin nggak percayanya itu kuadrat.

Reinkarnasi itu ayat mutasyabihat. Ya, kelahiran kembali itu diungkapkan dalam Alquran secara tersamar. Ayat-ayatnya harus dipikirkan dan direnungkan dalam-dalam. Kalau tidak dipikirkan masak-masak, pasti akan terjerumus pada penerjemahan atau penafsiran yang menyimpang. Ayatnya tidak disampaikan secara berurutan atau sering diselipkan di berbagai topik kehidupan. Makanya, kalau kita tidak jeli membacanya akan kecele.

16:70 – “Allah menciptakan kamu. Kemudian, Allah mewafatkan kamu (mengakhiri hidupmu di bumi ini), dan di antara kamu ada yang dikem-balikan pada umur yang paling lemah, agar dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang pernah diketahuinya. Sesunggunya Allah Maha Menge-tahui dan Mahakuasa.”
16:77 – “Dan kepunyaan Allahlah segala yang gaib di langit maupun di bumi. Dan, tidaklah perintah kebangkitan itu selain sekejap mata atau lebih cepat. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”
16:78 – “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun. Dan, Dia memberimu pendengaran, peng-lihatan dan fuad agar kamu dapat bersyukur.”
Pertama, pada umumnya orang yang hidup di bumi ini berakhir dengan kematian. Tentu saja, ada yang benar-benar telah wafat, alias telah sempurna hidupnya, sehingga tidak dilahirkan kembali di bumi ini. Tapi, kebanyakan manusia itu dilahirkan kembali. Dalam bahasa ayat di atas dinyatakan sebagai “dikembalikan pada umur yang paling lemah”. Umumnya, kalimat ardzal al-‘umur pada ayat tersebut diartikan “tua-renta”. Sedangkan kalimat “tidak mengetahui sesuatu pun yang pernah diketahuinya” diartikan dengan “pikun” atau pelupa karena sudah tua sekali.
Penerjemah biasanya tidak memahami bahasa Indonesia dengan benar. Mereka tidak menyadari bahwa “tua-renta” itu belum tentu lemah. Banyak orang di Indonesia ini yang umurnya sudah 80 tahun masih tampak lebih segar daripada yang berumur 40 tahun. Beberapa negarawan kita sudah berumur lebih dari 80 tahun, tapi masih berbicara tentang politik dan situasi negara kita dewasa ini secara kritis. Maka, jelas kalimat “dikembalikan pada umur yang paling lemah” itu tidak berarti tua-renta atau lanjut usia.
Kedua, kalimat “tidak mengetahui sesuatu pun apa yang pernah dike-tahui sebelumnya” diartikan dengan “pikun”. Ini salah besar! Orang pikun itu pelupa. Mudah lupa terhadap apa yang diketahui atau dikerjakannya. Tapi, pikun itu masih ada yang diingat. Bukan tidak ingat sama sekali apa yang pernah diketahui, atau lost memory. Dan, pikun itu sifat yang ada pada orang tua yang telah lanjut usia di mana saja. Namun, tidak setiap orang yang lanjut usia itu pikun. Jadi, tidak mungkin bangsa Arab tidak punya khazanah untuk kata pikun. Dalam bahasa Arab, pikun itu mukharraf.
Jadi, kondisi tua-renta dan pikun itu tidak merupakan pemetaan satu-satu. Artinya, ada orang yang tua-renta tidak pikun, dan ada orang pikun yang masih muda usianya. Makanya, harus kita cari ayat-ayat yang menya-takan “tidak tahu sesuatu pun apa yang pernah diketahuinya” itu dalam kaitan yang lain. Ternyata, pada ayat 78 disebutkan bahwa kalimat tersebut terkait dengan pernyataan “dikeluarkan dari perut ibumu”. Artinya, “tidak tahu sesuatu pun” itu dimiliki oleh bayi yang baru dilahirkan. Dan, di ayat sebelumnya dijelaskan bahwa kondisi ini disebut kebangkitan! Dus, kebangkitan seseorang itu ada di bumi ini, yaitu keluar dari perut ibu.
Ya…, kebangkitan adalah kelahiran. Dan, ini cocok dengan makna bangkit itu sendiri. Yaitu, bangkit sebagai manusia kembali. Dengan adanya kebangkitan atau kelahiran itu, maka orang yang telah mati, dan tulang-belulangnya telah hancur, akan hidup kembali sebagai ciptaan yang baru yang disangkal oleh orang-orang Arab pra-Islam.

Maka, kiamat dalam pengertian kita selama ini sebenarnya kelahiran kembali. Inilah yang disebut reinkarnasi. Dan, kehidupan dunia yang kita alami saat ini adalah akhirat bagi kehidupan masa lalu. Siksa dan pahala yang dialami saat ini merupakan buah perbuatan pada kehidupan masa lalu. Namun Tuhan itu rahman dan rahim, sehingga manusia dapat melanjutkan perjalanannya untuk kembali kepada-Nya.
Jika pada kedua ayat tersebut masih samar-samar dan memerlukan kejelian dalam membacanya, maka pada Surah Yâ Sîn [36]: 68 yang biasa dibaca oleh orang Islam pada berbagai kesempatan, hal reinkarnasi itu lebih jelas lagi. Bunyi terjemahan ayatnya, “Dan barangsiapa yang Kami panja-ngkan hidupnya niscaya Kami kembalikan pada kejadiannya. Apakah mereka itu tidak memikirkannya?”
Perhatikan! Pemanjangan hidupnya di bumi ini niscaya diikuti dengan kembalinya pada kejadiannya. Yaitu, dilahirkan sebagai bayi! Tapi, meski sudah terang-benderang maknanya, hampir penerjemah Alquran standar memberikan catatan kaki bahwa itu dikembalikan menjadi lemah dan kurang akal. Jelas, ini orang yang ngawur! Mana ada panjang umur selalu diikuti dengan lemah dan kurang akal? Sepikun-pikunnya atau kurang akalnya orang tua, masih lebih cerdas daripada bayi. Sebagaimana sudah dijelaskan bahwa orang yang telah lanjut usianya belum tentu pikun. Beberapa kepala negara malah masih aktif memimpin, meski umurnya sudah di atas 80 tahun. Tetapi, banyak orang yang baru berusia 60 tahun sudah menunjukkan gejala kepikunan.

Apa arti dikembalikan pada “kejadian”. Bukankah kejadian manusia itu berawal dari seorang bayi? Bagaimana mungkin mereka memahami kejadian sebagi lemah dan kurang akal? Rupanya, mereka itu perlu dididik biologi, agar mereka memahami arti kejadian manusia hingga wafatnya. Mereka perlu diajari membaca kamus dan struktur kalimat bahasa Indonesia. Untuk apa? Agar kalau ada kalimat “tidak mengetahui sesuatu pun” tidak diterjemahkan pikun. Bahasa untuk pikun itu ada di setiap bangsa. Karena, pikun merupakan fenomena yang menimpa orang tua atau lanjut usia.
Bahkan karena sesuatu gangguan, ada orang-orang yang kehilangan ingatan terhadap apa yang pernah diketahuinya. Mereka ini tidak terkait dengan batasan usia. Tapi, hal ini disebabkan oleh gangguan pada saraf otaknya. Ini kasus! Sehingga, hal semacam ini tidak dimasukkan dalam ayat. Maka, kalimat “tidak mengetahui sesuatu pun” harus dicarikan kaitannya pada ayat yang lain. Ini yang namanya menafsirkan ayat Alquran dengan ayat Alquran lainnya. Inilah penafsiran yang paling valid!
Kemudian, kalau kita melihat Surah Yâ Sîn di atas, ayat 68 itu ditutup dengan kalimat “apakah mereka tidak memikirkan”. Kalau kita dalam hidup sehari-hari ini menjumpai sesuatu yang lazim, maka kita tak perlu memikirkan maknanya. Kita baru memikirkan sesuatu jika kita ingin mengetahui makna di balik kejadian yang tampak itu.

Reinkarnasi dalam Hadis. Selain ayat-ayat Alquran, indikasi adanya reinkarnasi itu dapat kita temukan dalam beberapa Hadis. Di bawah ini saya cuplikkan beberapa Hadis yang ada kaitannya dengan reinkarnasi.
“Demi Tuhan yang jiwaku dalam genggaman-Nya, seandainya seseorang gugur di jalan Allah, kemudian dihidupkan lagi lalu gugur lagi, kemudian dihidupkan lagi lalu gugur lagi, niscaya ia tidak dapat masuk surga sebelum melunasi hutangnya.” (H.R. Nasai)

“Orang yang berhutang itu dibelenggu dalam kuburnya, tiada yang dapat melepaskannya selain ia membayar hutangnya.” (H.R. Dailami) “Sesungguhnya di antara dosa-dosa ada yang tidak dapat ditutupi oleh salat, puasa, haji dan umrah. Yang dapat menutupinya hanyalah duka-cita (kesulitan) dalam hidup mencari rezeki.” (H.R. Ibnu Asakir)

Pertama, meskipun gugur berkali-kali tapi bilamana belum melunasi hutangnya, ia tak akan masuk surga. Perhatikan, kata gugur berkali-kali dan hutang. Secara sederhana umat Islam menerjemahkan hutang itu dalam arti hutang harta-benda. Tidak sepenuhnya benar! Yang jelas, hutang harta-benda itu bagian dari hutang perbuatan (karma).

Dan lagi, pada kalimat di atas tidak dinyatakan “kecuali jika ada hutang, keluarganya melunasinya”. Kalimat ini tidak ada. Yang ada, justru menegaskan bahwa yang gugur itulah yang melunasinya. Jadi, hutang itu tidak dapat dilunasi orang lain. Seseorang tidak menanggung beban atau dosa orang lain. Setiap orang akan menanggung dosanya sendiri. Itulah yang dijelaskan di berbagai ayat Al-quran.
Kedua, hidup susah dalam mencari rezeki adalah cara untuk menutupi dosa-dosa. Coba, dosa darimana? Kalau hidup sekarang ini merupakan hidup yang pertama kali, maka tidak adil kiranya bila ada orang yang dilahirkan menderita di kolong jembatan. Padahal, Tuhan sudah menyatakan dengan tegas bahwa Dia tidak menzalimi hamba-hamba-Nya.

Bayak sekali di dunia ini orang yang hidupnya menderita semenjak dilahirkan di bumi ini. Menurut Hadis di atas, penderitaan itu sebenarnya untuk menutupi dosa-dosanya. Dan, dosa-dosa itu sendiri tidak dapat ditutupi oleh ibadah formal. Dosa yang tidak bisa dihapus dengan cara salat, puasa, umrah dan haji. Ini tentu saja dosa yang berat. Sehingga perbuatan ibadahnya pun tak bisa menghapusnya. Dosanya hanya hapus bila dia dilahirkan kembali di bumi ini sebagai orang yang hidup menderita!
Kiranya penjelasan saya tentang reinkarnasi pada hari ini saya sudahi sampai di sini. Penjelasan selanjutnya akan diberikan pada pertemuan di tempat yang sama minggu depan, tgl 31 Oktober 2004 tentang “Bentuk-bentuk Reinkarnasi dan Kesudahannya”.

Jumat, 14 Mei 2010

                                  MENG-OPTIMALKAN POTENSI OTAK
                                                      By. Moh. Subhan


A. Potensi Otak Anda untuk meraih kehidupan yang lebih produktif, sukses dan bahagia.

Telah lama diteliti bahwa selama hidupnya, manusia hanya menggunakan kurang dari 10% potensi otak yang mereka miliki. Bahkan
sebagian besar manusia menggunakannya dibawah bilangan 5%. Lalu kemana yang 90% ? Jawabannya adalah potensi tersebut
menunggu untuk digali. Dua dekade terakhir, penelitian tentang potensi otak manusia mengalami peningkatan yang signifikan dan
semakin menggembirakan. Semakin banyak metode-metode mutakhir dan hasil penelitian yang menguak potensi dan pengembangan
potensi otak manusia.

Bagaimanakah hubungan antara potensi otak ini dengan kehidupan anda? tentunya anda akan setuju jika kita katakan, erat sekali
hubungannya. Kemampuan anda untuk mengoptimalkan penggunaan otak anda akan sangat membantu anda untuk meraih target
kesuksesan anda.


B. Cara tercepat untuk mengembangkan potensi otak anda.

Banyak metode untuk mengembangkan potensi otak anda, dan bisa dikatakan semuanya memiliki tingkat keberhasilan masing
masing. Teknik Accelerated Learning yang dipelopori oleh Tony Buzan adalah salah satu metode yang paling populer hingga saat ini.

Selain Accelerated Learning, dikembangkan juga penelitian yang melibatkan perangkat elektronis sebagai piranti pengukur kinerja
otak. Telah diteliti dan disepakati oleh dunia sains otak, bahwa otak manusia dan primata memiliki fase gelombang otak yang mewakili
kondisi otak dan tubuh seseorang. Berdasarkan pengukuran melalui alat yang dinamakan Electro-encepalograph, dan perangkat
eletronis pengukur kinerja otak lainnya, pada dasarnya Otak memiliki 4 Fase Gelombang yaitu Beta, Alpha, Theta, dan Delta.
Inilah metode tercepat untuk mengembangkan potensi otak anda.

Beta - Fase gelombang otak disaat anda sangat aktif seperti mengobrol, mengerjakan sesuatu, gugup/gelisah atau keadaan aktif
lainnya. Beta sangat diperlukan jika kita harus memikirkan beberapa hal sekaligus, tapi tidak jika kita ingin menyerap informasi secara
cepat.

Alpha - Fase otak kreatif dimana otak dalam keadaan yang lebih rileks, fase ini sangat baik untuk belajar, menyerap informasi,
melakukan terapi, mempercepat proses penyembuhan, meningkatkan kekebalan tubuh, juga mengurangi stess mental-emosional dan
fisik. Sering disebut sebagai keadaan Meditasi Dasar.
Theta - Fase otak yang lebih dalam, yaitu saat anda tidur atau trance. Fase ini sangat bagus untuk proses
auto-sugesti/auto-hypnosis. Pada fase inilah mimpi terjadi, sehingga dengan teknolgi yang mampu mengontrol fase ini, anda dapat
memperoleh mimpi "Extra-Sensory Perception" atau biasa disebut kewaskitaan/wangsit.

Delta - Fase otak yang terakhir dan paling dalam, saat anda tidur nyenyak atau keadaan koma. Dengan mampu mengontrol fase ini,
anda dapat memperoleh kondisi tidur yang nyenyak dan berkualitas. Dengan teknik tertentu, fase ini dapat menghubungkan anda
dengan Energi Kesadaran Astral yang diberikan Tuhan. Melalui fase ini pulalah anda dapat mewujudkan energi pikiran menjadi materi.

dinukil dari: mind sound
TASAWUF REVOLUSI SPIRITUAL-MORALITAS *
(Refleksi atas kehidupan modern)
By Moh Subhan

A. Pendahuluan
Islam sebagai agama yang bersifat universal dan mencakup berbagai jawaban atas berbagai kebutuhan manusia, selain menghendaki kebersihan lahiriah (eksoterik) juga menghendaki kebersihan batiniah (esoterik), memelihara keseimbangan antara keperluan badani dan kebutuhan rohani, antara keutamaan dunia dan akhirat. Lantaran penilaian yang sesungguhnya dalam Islam diberikan pada aspek batin. Kedamaian tidak mungkin ditemukan dalam suatu peradaban yang menyusutkan seluruh kesejahteraan manusia menjadi kebutuhan hewani.
Kehidupan dewasa ini telah berkembang menjadi demikian materialistik dan hedonistik. Kesenangan sesaat dan materi menjadi tolok ukur segala hal, kesuksesan, kebahagiaan, semuanya ditentukan oleh materi. Orang berlomba mendapatkan materi yang sebanyak-banyaknya, karena dengannya manusia merasa sukses dan bisa mereguk kesenangan sesaat duniawi. Akibatnya manusia sering bertindak tanpa kontrol (menghalalkan segala cara) hanya untuk mendapatkan materi; manipulasi, korupsi dan kolusi. Menuruti hawa nafsu; pergaulan bebas yang menjurus pada perilaku penyimpangan seksual, pengguguran kandungan (aborsi), pemerasan, penindasan, pembunuhan dan perilaku tercela lainnya sudah dianggap sah-sah saja. Nilai-nilai kemanusiaan; adil, bijaksana, kasih sayang, kedamaian, dan nilai-nilai luhur lainnya semakin terkikis. Kehidupan manusia kian dihinggapi rasa cemas, dan hampa dari nilai-nilai spiritual. Sehingga yang tercipta sekarang ini adalah sebuah ras non manusiawi yang cenderung cemas, gugup, sulit diatur dan lebih mudah marah (impulsif dan agresif). Semua itu bermula dari kekotoran jiwa manusia, yaitu jiwa yang jauh dari bimbingan Allah swt, yang disebabkan ia tidak pernah mencoba mendekati-Nya.
Untuk mengatasi masalah-masalah tersebut, tasawuflah yang paling memiliki potensi dan otoritas, karena di dalam tasawuf dibina secara intensif tentang cara-cara melakukan pembersihan diri (tazkiyatun nafs) serta mengamalkan syariat secara benar. Dengan pengetahuan ini diharapkan seseorang akan tampil sebagai individu yang bisa mengendalikan dirinya di saat ia berinteraksi dengan orang lain, atau di saat melakukan berbagai aktivitas duniawi yang menuntut kejujuran, keikhlasan, tanggung jawab, kepercayaan dan sebagainya, semata-mata karena Allah. Dengan cara ini seseorang akan selalu merasakan kehadiran Allah swt dalam dirinya. Sehingga pada gilirannya ia akan merasa malu jika berbuat yang menyimpang dari aturan Allah, karena merasa diperhatikan oleh-Nya. Ketika menduduki sebuah jabatan, ia lakukan dengan amanah, berpolitik ia lakukan dengan elegan dan jujur, berbinis sifat jujur dan tidak curang menjadi dasar pijakannya. Dengan kata lain apapun kedudukan dan bagaimanapun kondisinya ia akan ingat bahwa ia sedang diperhatikan Allah. Sosok pribadi seperti inilah yang dibutuhkan negara kita yang sedang terpuruk ini.
Fenomena yang terjadi di negara kita amat unik. Para kiai, sebagaian mursyid (guru dalam thariqah) sedang berlomba-lomba masuk dalam kancah politik praktis. Sehingga terkadang mereka malah dibuat alat legetimasi untuk kepentingan politik partai tertentu. Hal ini sungguh amat ironis. Tugas mulia yang seharusnya diemban --penebar kedamaian dan kerukunan, pembimbing umat—berubah menjadi pemecah belah umat. Hal ini amat berbeda dengan masa Islam klasik, mereka hadir dengan tasawuf sebagai gerakan check and balance (kontrol dan penyeimbang) atas gaya hidup yang berlebih-lebihan, bermewah-mewah, berfoya-foya yang dilakukan oleh kalangan pejabat, orang-orang kaya dan kaum borjuis lainnya. Dalam konteks yang demikian tasawuf menjadi gerekan protes sosial terhadap cara hidup dan berbuat yang dilakukan oleh kaum borjuis tersebut. Sebagai simbol dari protes itu maka mereka mengenakan pakaian yang sangat sederhana, seperti dari wool kasar.
Demikian pentingnya peranan tasawuf dalam kelangsungan hidup manusia seutuhnya (lahir dan batin) maka tidak mengherankan apabila tasawuf demikian akrab dengan kehidupan masyarakat Islam, setelah masyarakat tersebut membina akidah (iman) dan ibadahnya (islam), melalui ilmu tauhid dan ilmu fiqh, kemudian tasawuf yang merupakan pengejawantahan lebih lanjut dari ajaran ihsan. Dengan demikian terjadi hubungan tiga serangkai yang amat harmonis yaitu; iman, islam dan ihsan atau akidah, syari’ah dan akhlak. Pertanyaan yang mendasar dan perlu kita jawab adalah, apakah memang cocok tasawuf bagi bangsa Indonesia yang sedang krisis dan morat-marit ini ? Apa malah tidak menjadikan bangsa ini menjadi semakin eskapistis (lari dari dunia) dan fatalistis (menyerah pada nasib atau takdir) serta kehilangan dorongan dan semangat kerja (etos kerka) ?

B. Pembahasan
Menurut Harun Nasution tasawuf mempunyai lima istilah yaitu shuffah yang bermakna sebuah serambi sederhana yang terbuat dari tanah dengan bangunan yang sedikit lebih tinggi daripada tanah, , Shaf yaitu barisan atau deretan dalam shalat berjama’ah, Shafa yaitu bersih dan suci, sophos (bahasa Yunani: hikmah) dan shuf yaitu kain wol kasar.
Jadi, jika diperhatikan secara seksama, kelima istilah tersebut bertemakan tentang sifat-sifat dan keadaan yang terpuji; kesederhanaan dan kedekatan pada Tuhan.
Dengan demikian, dari segi bahasa tasawuf “menggambarkan keadaan yang selalu berorientasi kepada kesucian jiwa, mengutamakan Allah, berpola hidup sederhana, mengutamakan kebenaran dan rela berkorban demi tujuan-tujuan yang mulia di sisi Allah.”
Sedangkan pengertian tasawuf dari segi istilah (terminologi), terdapat tiga sudut pandang yag digunakan para ahli dalam mendefinisikan tasawuf. Pertama, sudut pandang manusia sebagai makhluk terbatas, kedua sudut pandang manusia sebagai makhluk yang harus berjuang, dan ketiga sudut pandang manusia sebagai makhluk bertuhan.
Jika dilihat dari sudut pandang manusia sebagai makhluk terbatas, maka tasawuf dapat didefinisikan sebagai upaya mensucikan diri dengan cara menjauhkan pengaruh kehidupan dunia dan memusatkan perhatiannya kepada Allah. Selanjutnya, jika sudut pandang yang digunakan adalah pandangan bahwa manusia sebagai makhluk yang harus berjuang, maka tasawuf dapat didefinisikan upaya memperindah diri dengan akhlak yang besumber pada ajaran agama dalam rangka mendekatkan diri pada Allah. Dan jika sudut pandang yang digunakan adalah manusia sebagai makhluk bertuhan, maka tasawuf dapat didefinisikan sebagai suatu kesadaran fitrah yang dapat mengarahkan jiwa agar selalu tertuju pada aktivitas yang dapat menghubungkan manusia dengan tuhan.
Jika ketiga definisi tersebut disatukan, maka segera nampak bahwa tasawuf intinya adalah upaya melatih jiwa dengan berbagai kegiatan yang dapat membebaskan diri manusia dari pengaruh kehidupan duniawi dan selalu merasa dekat dengan Allah, sehingga jiwanya bersih dan memancarkan akhlak mulia.
Dengan menempatkan pengertian tasawuf secara proporsional dan mempraktekkan dengan tepat dan benar, maka nampak tasawuf tidak mengesankan keterbelakangan dan kemunduran atau semacamnya, melainkan justru menjadi suatu metode yang efektif dan impresif dalam menghadapi tantangan zaman dan dinamika kehidupan yang silih berganti. Sebab, dalam tasawuf terdapat prinsip-prinsip positip yang mampu menumbuhkan perkembangan masa depan masyarakat. Bahkan tasawuf mendoromg wawasan hidup yang moderat (tawasuth) yang bertumpu pada basis keharmonisan dan keseimbangan total.

Dari Gerakan Hidup Zuhud menjadi Ajaran Tasawuf
Suatu kenyataan bahwa kelahiran tasawuf bermula dari gerakan hidup zuhud. Dengan kata lain bahwa cikal bakal aliran tasawuf adalah kehidupan zuhud yang sebenarnya telah dipraktekkan dan diajarkan oleh Rasulullah, kemudian diikuti oleh para sahabat. Pada abad pertama Hijriah mereka yang menempuh kehidupan zuhud dikenal dengan sebutan nasik, ubad atau zahid (ascetic). Karena mereka lebih memperbanyak ibadah, zuhud dan wara’ sesuai dengan batas yang diperintahkan agama. Kemudian pada pertengahan abad ke-2 H barulah dikenal istilah tasawuf, dan orang yang melaksanakan tasawuf disebut dengan shufi. Orang yang mula-mula digelari shufi adalah Abu Hasyim al Kufi (w. 150 H).
Meskipun pada saat itu sudah ada istilah shufi, tetapi belum berarti telah lahir sistem tasawuf sebagai ilmu, ia masih dalam perkembangan dari zuhud ke arah tasawuf. Perkembangan zuhud ke arah tasawuf sebagai ilmu yang sistematis dimulai pada permulaan abad ke-3 H, dan mencapai kesempurnaanya pada abad ke-4 H.
Menurut al-Taftazani, pada masa ini terdapat dua aliran tasawuf Pertama, tasawuf yang beraliran moderat atau tasawuf suluki (Behaviourist), (ajarannya selalu merujuk pada al Qur’an dan al Sunnah). Ajaran tasawufnya didominasi ajaran-ajaran moral. Kedua, tasawuf yang beraliran “wahdatul wujud / kesatuan wujud” (panteisme), atau tasawuf falsafi (Philosophical). Ajaran tasawufnya mengajarkan konsep hubungan manusia dengan Allah, seperti hulul dan ittihad, atau bercirikan kecenderungan pada metafisis.
Abad ke-5 H, masih menurut al-Taftazani corak tasawuf moderat lebih mendominasi dari aliran tasawuf lainnya, dan mengadakan kritik yang keras terhadap keekstreman tasawuf Abu Yazid al Busthami dan al Hallaj maupun para sufi lainnya yang dianggap telah menyimpang dari ajaran Islam. Dengan demikian, kaum sufi abad ke-5 H cenderung mengadakan pembaruan, yakni dengan mengembalikan tasawuf pada landasan al Qur’an dan al Sunnah. Al-Qusyairi (w. 465 H) dan al Harawi (w. 481 H) dipandang sebagai tokoh-tokoh sufi yang paling menonjol di abad ini, yang membawa tasawuf ke arah aliran sunni. Kemudian metode mereka berdua diikuti oleh al Ghazali (w.505 H). Karena itu, pada abad ke-5 H, tasawuf sunni berada pada posisi yang menentukan.
Para pengkaji tasawuf sering menempatkan al Ghazali sebagai tokoh utama periode ini, yang menyelamatkan tasawuf dari kehancuran. Ia berupaya untuk mengintegrasikan fiqh dan teologi (Ilmu Kalam) menjadi satu ajaran Islam yang utuh, melalui karya monumentalnya “Ihya ‘Ulum al-Din”, sehingga tasawuf bisa diterima di kalangan umat Islam saat itu. Karena pada masa awal kemunculan tasawuf telah terjadi ketegangan-ketegangan yang serius antara para zahid atau sufi dengan para fuqaha dan mutakllimin. Sehingga banyak para sufi yang dicap oleh kalangan fuqaha dan mutakllimin dengan zindiq. Bahkan diantara mereka ada yang dihukum bunuh, seperti al Hallaj, sufi-sufi seperti Zu al-Nun al-Misri, Abu Yazid al Bustami, Junaid al-Baghdadi dan laiinya tidak luput dari tuduhan zindiq tersebut.
Memasuki abad ke-6 H, tasawuf falsafi yang muncul pada abad ke-4 H dan tenggelam pada abad ke-5 H, muncul kembali dengan bentuknya yang lebih sempurna pada pengajaran Ibn Arabi (sufi Andalusia, w. 638 H). Dengan pengetahuan yang amat kaya, baik dalam ilmu keislaman maupun filsafat, ia berhasil mempublikasikan beberapa karyanya, diantaranya al Futuhat al Makiyah dan Fusu al Hikam. Hampir semua praktek, pengajaran dan ide yang berkembang dikalangan kaum sufi diliputnya dengan penjelasan-penjelasan yang memadai. Ajaran sentral Ibn Arabi adalah “kesatuan wujud” (wahdat al wujud). Melalui sufi-sufi besar yang menjadi murid atau pengikutnya, seperti al Qunawi (w. 673 H), al farqani (w. 700 H), al Kasyani (w. 730), Jalaluddin ar Rumi (w. 672 H), dan lain-lain, tasawuf ini berkembang, terutama di Persia.

Isi Pokok Ajaran Tasawuf
Dalam pandangan kaum shufi, manusia cenderung dikendalikan oleh dorongan-dorongan nafsu pribadinya. Ia cenderung ingin berkuasa dan menguasai dunia. Cara hidup seperti ini menurut al Ghazali, akan membawa manusia ke jurang kehancuran moral. Sebab sadar atau tidak, lambat atau cepat, manusia akan terbawa kepada pemujaan dunia (hubbu al dunya). Kenikmatan hidup dunia akan menjadi tujuan utama, bukan sebagai sarana untuk menuju kebahagiaan dan kenikmatan akhirat yang hakiki.
Pandangan hidup seperti itu menjurus ke arah pertentangan manusia dengan sesamanya. Sehingga ia lupa akan wujud dirinya sebagai hamba Allah yang harus berjalan di atas aturan agama. Karena sebagaian besar waktunya dihabiskan untuk persoalan-persoalan dunia, maka ingatannyapun jauh dari Allah. Semua itu disebabkan oleh tidak terkontrolnya hawa nafsu.
Sebenarnya, manusia tidak perlu mematikan sama sekali potensi nafsunya, tetapi bagaimana ia mampu meguasainya agar nafsu itu tidak membawa pada kesesatan. Memang, pada dasarnya nafsu manusia mempunyai kecenderungan untuk baik dan buruk, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Asy Syams, 7-10.
ونفس وما سواها◘ لإا لهمها فجو رها وتقواها◘ قد افلح من زكها◘ وقد خاب من دسها
Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya),
Maka Allah mengilhami kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaan,
Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,
dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.
Agar nafsu dapat dikuasai, maka perlu adanya rehabilitasi mental secara total (lahir dan bathin), sebab hawa nafsu itu merupakan hijab antara manusia dengan Tuhan. Sebagai upaya untuk menyingkap tabir itu, seseorang harus melakukan amalan dan latihan kerohaniaan melalui cara-cara (thariqah) tertentu. Dalam hal ini, ahli tasawuf membuat suatu sistem yang tersusun atas dasar didikan tiga tingkat, yaitu takhalli, tahalli dan tajalli.
Takhalli adalah membersihkan diri dari sifat-sifat basyariyah; yakni manusia dalam dimensi jasmani dan lahiriahnya yang memilki nafsu (nafsu untuk menikmati hidup dan kemapanan, nafsu dan hasrat untuk membangun cita-cita, serta kekuatan dan kelemahan). Dengan ungkapan lain, mengosongkan diri dari sifat ketergantungan terhadap kelezatan hidup duniawi.
Tahalli, mengisi diri dengan sifat-sifat insaniyah; (manusia dalam dimensi ruhani dan spiritualnya), atau menghiasi diri dengan jalan membiasakan diri dengan sikap, sifat dan perbuatan yang terpuji dengan cara mentaati ketentuan agama baik yang bersifat lahiriyah seperti; shalat, puasa, zakat dan sebagainya, maupun yang bersifat batin seperti, wara’, ihlas, ridla dan sebagainya. Jalur yang bisa dilakukan adalah, riyadlah (spiritual exercise / olah rohani); dzikir, do’a serta memperbanyak ibadah dan muhasabah (kalkulasi diri); syukur, tawakkal, sabar, cinta kasih, ridla dan mengingat mati.
Sedangkan tajalli berarti terungkapnya nur gaib untuk hati, karena telah lenyapnya hijab (tabir) dari sifat-sifat manusia dalam dimensi jasmani dan lahiriahnya yang memilki nafsu (basyariyah). Dalam posisi seperti itu, seseorang telah mampunyai rasa (dzauq) dan memberi pemahaman lebih metafisis tentang rahasia-rahasia ketuhanan (sirr), sehingga hatinya menjadi kosong dari sifat-sifat tercela (takhalli), tetapi penuh dengan sifat-sifat terpuji (tahalli). Karenanya, Allah bisa dikenal secara jelas (tajalli) dengan bantuan nur kehendak-Nya yang dipancarkan dalam mata hati orang-orang yang dikehendaki-Nya. Kaum shufi yakin bahwa seseorang dapat memperoleh pancaran nur Ilahi.
Ketika hijab telah tersingkap, maka Allah tampak dengan af’al, sifat dan asma’ Nya serta hal-hal yang gaib menjadi pengetahuan yang hakiki (mukasyafah, ma’rifah dan musyahadah). Hal itu tidak didapat dengan menyusun dalil dan menata argumentasi, tetapi karena nur Allah yang dipancarkan-Nya kedalam hati; dan nur itu merupakan kunci untuk sekian banyak pengetahuan. Oleh karena itu, jika ada orang yang menyangka bahwa tersingkapnya itu tergantung pada dalil-dalil semata, maka sesungguhnya orang itu telah menyempitkan rahmat Allah yang luas.

Tasawuf sebagai Revolusi Spiritual-Moralitas.
Tasawuf merupakan ajaran yang berasal dari agama Islam, sebab tasawu merupakan pengejawantahan lebih lanjut dari aspek ihsan, dan ihsan merupakan salah satu kerangka dasar agama selain iman dan islam. Dengan demikian pada hakikatnya tasawuf adalah suatu yang inheren (melekat tak terpisahkan) dengan syariat.
Tasawuf merupakan sebuah media untuk membebaskan diri manusia dari belenggu nafsu. Dan, pembebasan itu membutuhkan pengorbanan baik lahir maupun bathin. Kehidupan duniawi yang secara kemanusiaan sangat dibutuhkan oleh manusia selaku makhluk hidup yang membutuhkan materi, tapi keinginan tersebut harus di menej (diatur). Sebab kekacauan hidup dimulai ketika manusia membebaskan diri dari keterikatanya dengan Allah, atau ketika manusia tidak lagi menganut “ajaran keterbatasan”. Kekalahan manusia melawan hawa nafsu menyebabkan kecelakaan dan kecederaan hidup. Hal ini terutama karena akumulasi gerakan-gerakan nafsu akan menyatu menjadi kekuatan hewani yang menyeret manusia dari posisi “homo sapiens” (makhluk berakal) ke posisi “homo economicus” (makhluk matrialistis) dan “homo homini lopus” (manusia yang berkarakter seperti hewan buas), pemeras, penindas dan bermata hati hitam pada kebenaran.
Manusia rakus diumpamakan sebagai bebek yang setelah makan semua yang ada dipermukaan air, lantas ia akan membenamkan paruhnya ke dalam lumpur untuk menyosor apa saja yang ada di dalamnya. Orang rakus menjadi semacam penggarong yang menggeledah semua isi rumah bahkan negara dan memenuhi seluruh kantongnya dengan cepat, dia akan memasukkan apa saja, baik atau buruk, panas atau dingin, dan sebagainya. Fenomena ini bisa kita saksikan pada sebagian besar bangsa Indonesia yang mayoritas umat Islam, tetapi negara Indonesia merupakan salah satu negara terkorup di dunia. Suatu hal hal yang sangat ironis, satu sisi warga negaranya mayoritas beragama Islam yang menjunjung nilai-nilai moral, tapi di sisi lain korupsi meraja lela. Hal demikian terjadi, karena manusia sudah dikalahkan dengan keinginan nafsu duniawinya. Di negara ini semua tidak bisa diperoleh dengan gratis tetapi harus dengan uang. Untuk bisa menjabat sebagai kepala desa saja, harus mempunyai dana minimal Rp. 500 juta, dengan asumsi gaji kepala desa hanya beberapa tanah bengkok yang juka dikalkulasi dalam jangka 5 tahun, modal itu tidak akan kembali. Yang menarik di sini adalah, mengapa dengan gaji yang tidak seberapa itu jabatan kepala desa diperebutkan oleh banyak orang bahkan di Madura ada yang sampai “carok massal” –kasus 2007, di desa Bira Kecamatan Palengaan pamekasan--. Jawabannya tentu ada hal lain di balik itu yang bisa menguntungkan secara materi. Sehingga ketika jabatan sudah diraih, mulailah mengeruk, menggarong uang rakyat. Para politikus cara berpolitiknya sudah menyimpang dari koridor –koridor agama, mereka melakukan apa saja, menyuap, memanipulasi ayat al Qur’an bahkan memerah kyai untuk mencapai ambisi pribadi dan partainya, mereka yang berprofesi sebagai guru atau dosen tanpa merasa bersalah telah memanipulasi data hanya untuk menaikkan jabatan agar bertambah tunjangan materinya, bahkan kyai tidak mau ketinggalan menjual suara warga atau santrinya hanya untuk memperoleh segelintir bantuan. Dengan kata lain, bahwa warga bangsa ini sudah jauh dari aturan agama.

Suri tauladan sejak semula sudah dicontohkan bahkan diserukan oleh Rasulullah saw, betapa beliau menghindari hidup rakus dan boros, sebaliknya mengakrabi hidup kesederhanaan. Sikap mampu menahan diri terhadap kehidupan duniawi itu membangun kecintaan kepada Allah. Ajaran hidup hemat terhadap kebutuhan duniawi perlu diaksuentasikan, lebih-lebih kehidupan nasional saat ini yang tengah diberondong varian krisis.
Bila penghematan kekayaan bisa ditekuni apalagi sampai menjadi gerakan massal yang menasional, serta kontinyu, maka akan bernilai matreial yang sangat besar yang mampu meringankan beban pukulan krisis ekonomi. Penyikapan akan hidup hemat dan kesederhanaan, ini tidak berarti bahwa manusia harus meninggalkan dan menanggalkan kehidupan duniawi sama sekali, sebab hal itu bertentangan dengan konsep agama. Sebagaimana terdapat dalam surat al Qashas, 77.
وابتغ فيما اتك الله الدار الآخرة ولآ تنس نصيبك من الد نيا واحسن كما احسن الله اليك ولآ تبغ الفسد فى الآرض. ان الله لآ يحب المفسد ين (القصاص: 77)
Dan carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
Manusia yang kalah melawan dan mengedalikan hawa nafsunya menjulurkan kehidupan ke bawah lumpur kehidupan dengan hanya sanggup mencintai pakaian jasmaniah, tanpa pernah merasa risau dengan realitas rohaniahnya yang kosong ompong tanpa isi. Usaha sufi sesungguhnya tiada lain untuk menanggalkan baju jasmaniah itu. Bagi sufi perjalanan hidup hanya satu yaitu “Tuhan”. Dan tuhan tidak mau dimadu dengan dunia. Lalu bagaimana agar ajaran tasawuf bisa dilaksanakan pada era yang serba materi dan pada kondisi yang krisis ini, sehingga ajaran tasawuf benar-benar bisa dirasakan kemanfaatannya ?
Esensi dasar ajaran sufisme adalah menahan hawa nafsu keduniawian, kiranya sufistik kekuasaan menuntun kita untuk mampu menahan diri atau membangun pola kesederhanaan hidup duniawi dalam kehidupan bernegara, berbangsa dan bermasyarakat.
Ajaran Islam tidak memisahkan antara isi dengan kulit, antara syariat dengan tasawuf. Syariat dan tasawuf sebenarnya bagaikan dua sisi dari sebuah mata uang. Syariat dan tasawuf menyatu dalam setiap ibadah. Syariat tanpa tasawuf bagaikan badan tanpa jiwa, dan tasawuf tanpa syariat bagaikan jiwa tanpa badan. Syariat adalah ilmu yang bagaikan pohon, dan tasawuf adalah amal sholeh yang bagaikan buah. Jika salah satu saja yang diperhatikan sedangkan yang lainnya diabaikan, maka tidak saja sia-sia tetapi justru akan menimbulkan kontra produkif yang dapat mendatangkan malapetaka.
Munculnya ungkapan-ungkapan sinis dalam masyarakat, seperti; banyak orang yang lapar tapi sedikit yang puasa, banyak mahasiswa yang kuliah tapi sedikit yang belajar, banyak orang yang meraih gelar sarjana tapi sedikit yang cendikia, banyak guru /dosen yang mengajar tapi sedikit yang mendidik, banyak orang yang sholat tapi sedikit yang menegakkan nilai-nilai sholat, banyak orang yang bersholawat tapi sedikit yang menegakkan sunnahnya, dan seterusnya. Ungkapan-ungkapan sinis tersebut merupakan akibat lepasnya syariat dari tasawuf.
Sebagaimana telah diuraikan di atas, bahwa pada dasarnya ajaran tasawuf merupakan pengalaman (al tajribah) spiritual yang bersifat pribadi / khusus, dan tidak semua orang dapat mengalaminya. Dan, setiap shufi mempunyai cara tersendiri (thariqah) dalam rangka revolusi spiritual; penjernihan hati dan pengungkapan kondisi dirinya untuk mencapai ma’rifatullah.
Bagi kaum shufi, ma’rifatullah merupakan tujuan utama (primer) dan pijakan mendasar (iltizam) dalam proses ibadah. Melalui tujuan inilah, kaum shufi berkonsentrasai penuh melatih keruhaniyahannya (tajribah al ruhiyah) untuk menggapai penyucian hati (tazkiyatun nafsi) secara kontinu. Ikhtiar atau pelatihan shufi ini kemudian mempengaruhi penajaman hati. Dengan latihan yang intensif dan tepat sasaran, maka akan tersingkap segala selubung dalam hati (makrifat). Dalam kondisi demikian, kelimpahruahan materi dunia tidak akan mempengaruhi hatinya. Seorang shufi adalah mereka yang kaya hatinya, tapi tidak pasif terhadap realitas dunia. Kehidupan dunia ini bagi sang shufi adalah fakta yang tidak bisa diingakri. Mereka menghadapi secara realistis dengan kedekatan kepada Allah. Segala aktivitas yang dilakukan bertujuan mencari ridla Allah.
Teladan-teladan kesufian bisa dilihat dalam sejarah, seperti Umar bin Abdul Azis seorang raja yang bersikap asketis, Jabir ibnu Hayyan, seorang fisikawan yang shufi, Al Junaid seorang pengusaha suskes sekaligus shufi, Syeikh Abu al Hasan Asy Syadzili, seorang petani yang shufi, dan tokoh-tokoh lainnya. Ini menunjukkan bahwa seorang shufi sesungguhnya tidaklah berjarak total dari dunia. Sang shufi hanya memagaru dirinya dengan dunia melalui medium pelatihan ruhani sehingga tercapai keteduhan dan ketenangan jiwa (an nafsul muthmainnah).
Secara praktis, dalam dunia kesufian, ini lazim ditempuh melalui pelatihan spiritual yang terformulasikan dalam maqamat ruhiyah (tahapan spiritual) yang digapai melalui bermacam-macam ibadah, mujahadah, riyadlah, serta mempersembahkan jiwa raga hanya untuk Allah. Jumlah maqomat tidak dapat dipastikan secara matematis, karena setiap shufi memiliki pengalaman ruhani sendiri-sendiri. Meskipun demikian, para ahli tasawuf (mutasawwifah) secara umum menetapkan tujuh maqamat, yaitu; taubat, wara’, zuhud, faqr, sabar, tawakal dan ridla.
Sebagai konsekwensi dari perolehan maqamat yang bersifat konstan, seorang shufi akan mengalami ahwal, yaitu kondisi spiritual yang menyelimuti qalb, bersifat spontan dan tidak langgeng. Ahwal merupakan ekspresi ketulusan seorang sufi dalam mengingat Allah.
Ahwal yang menyelimuti para shufi (pelaku tasawuf) pada dasarnya merupakan proses revolusi qalbu yang mengandung dua substansi: Pertama, takhalli. Pada fase ini, terkadang para shufi mengalami kondisi raja’ (optimistis) atau sebaliknya khauf (segan). Kedua, tahalli. Pada fase ini, para shufi dapat mengalami kondisi fana’ atau sebaliknya, hudlur.




DAFTAR PUSTAKA

Al Ghazali, Mukasyafah al Qulub, Abdul Hamid Ahmad Hanafi, Cairo, t.t
Asmaran, AS, Pengantar Studi Tasawuf, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002
Atjeh,Abu Bakar, Pengantar Sejarah Shufi dan Tasawuf, Ramadhani, Solo, 1984
Atang Abd. Hakim & Jaih Mubarok, Metodologi Studi Islam, Remaja Rosdakarya, Bandung , 2000
Depag RI, Al Qur’an dan Terjemahnya, Semarang, Karya Toha Putra, 1995
Jalal Syarif, Muhammad, Al tasawuf al Islami wa madarisuhu, Dar Matba’ah al Jami’ah, 1974
Hidayat, Komaruddin, Agama di Tengah Kemelut, Jakarta, Mediacita, 2001
Kafie,Jamaluddin, Tasawuf Kontemporer, Republika, 2003
Nasution,Harun, Falsafat dan Mistisisme dalam islam, Bulan Bintang, jakarta, 1983, cet III
Nata, Abudin, Metodologi Studi Islam, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2000
--------------, Akhlak Tasawuf, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1996. cet I
Siroj, Said Aqil, Tasawuf sebagai Kritik Sosial, Mizan, Bandung, 2006
Zahri,Mustafa, Kunci Memahami Ilmu Tasawuf, Bina Ilmu, Surabaya, 1991
Taftazani, Abu al Wafa’ Al, Madkhal ila asawwuf al Islami, Dar Al-Saqafah li Al-Tiba’ah wa Al-Nasyr, Cairp, 1979.
MENGENAL ALLAH
Disadur dari Kitab Ihya' 'Ulumiddin
karya Imam al-Ghazaly
Satu Hadis Nabi Muhammad SAW. yang masyhur ialah; "Siapa yang mengenal dirinya, mengenal ia akan TuhanNya" Ini berarti dengan mematuhi dan memikirkan tentang dirinya dan sifat-sifatnya, manusia itu bisa sampai mengenal Allah. Tetapi oleh karena banyak juga orang yang memikirkan tentang dirinya tetapi tidak dapat mengenal Tuhan, maka tentulah ada cara-caranya yang khusus bagi mengenal ini.
Sebenarnya ada dua cara untuk mencapai pengetahuan atau pengenalan ini. Salah satunya sangat sulit dan sukar difaham oleh orang-orang biasa, maka cara yang ini tidak usahlah kita terangkan di sini. Yang satu cara lagi adalah seperti berikut: apabila seseorang memikirkan dirinya, dia tahu bahwa ada satu ketika ia tidak berwujud, seperti tersebut dalam Al-Quran: "Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut (QS. 76:1) Selanjutnya ia juga tahu bahwa ia dijadikan diri setitik air yang tidak ada akal, pendengar, penglihatan, kepala, tangan, kaki dan sebagainya, dari sini teranglah bahwa walau bagaimanapun seseorang itu mencapai taraf kesempurnaan, tidaklah dapat ia membuat dirinya sendiri meskipun hanya sehelai rambut.
Tambahan pula jika ia setitik air, alangkah lemahnya ia? Demikianlah seperti yang kita lihat di bab pertama dulu, didapatinya dalam dirinya kekuasaan, kebijaksanaan dan cinta Allah terbayang dalam bentuk yang kecil. Jika semua pendeta dalam dunia ini berkumpul dan mereka tidak mati, niscaya mereka tidak dapat mengubah dan membaiki bentuk walau satu bagian dari badannya itu.
Misalnya, dalam penggunaan gigi depan dan gigi samping untuk menghancurkan makanan, penggunaan lidah, air liur, tengkuk, kerongkong, kita dapatinya penciptaan itu tidak dapat diperbaiki lagi. Begitu juga, fikirkan pula tangan dan jari kita. Jari ada lima dan tidak pula sama panjang, empat daripada jari itu mempunyai tiga persendian, dan ibu jari hanya ada dua persendian, dan lihat pula bagaimana ia bisa digunakan untuk memegang, mencincang, memukul dan sebagainya. Jelas sekali manusia tidak akan dapat berbuat demikian, meski hendak menambah atau mengurangkan jumlah jari itu dan susunannya .
Lihat pula makanan, tempat tinggal kita dan sebagainya. Semuanya cukup dikurniakan oleh Allah yang maha kaya. Tahulah kita bahwa rahmat atau Kasih Sayang Allah itu sama dengan Kekuasaan dan KebijaksanaanNya, seperti firman Allah Subhanahuwa Taala.
"RahmatKu itu lebih besar dari kemurkaanKu"
Dan sabda Nabi SAW., "Allah itu sayang kepada hamba-hambanya lebih dari sayang ibu kepada anaknya"
Demikianlah, dari makhluk yang dijadikanNya, manusia bisa tahu tentang wujud Allah; dari keajaiban badannya, ia dapat tahu tentang Kekuasaan dan Kebijaksanaanya Allah; dan dari kurnia rezeki Tuhan yang tidak terbatas itu, nampaklah Cinta Allah kepada hambaNya. Dengan cara ini, mengenal diri sendiri itu menjadi anak kunci kepada pintu untuk mengenal Allah Subhanahuwa Taala.
Sifat-sifat manusia itu adalah bayangan Sifat-sifat Allah. Begitu juga cara wujud ruh manusia itu memberi kita sedikit pandangan tentang wujud Allah, yaitu Allah dan ruh itu tidak kelihatan, tidak bisa dibagi-bagi atau dipecah-pecahkan, tidak tunduk kepada ruang dan waktu, diluar kemampuan kuantitas (jumlah) dan kualitas, dan tidak bisa diperikan dengan bentuk, warna atau ukuran. Orang merasa sulit hendak membentuk satu konsep berkenaan hakikat-hakikat ini karena ia tidak termasuk dalam bidang kualitas dan kuantitas, dan sebagainya, tetapi coba perhatikan betapa susah dan payahnya memberi konsep tentang perasaan kita sehari-hari seperti marah, suka, cinta dan sebagainya. Semua itu adalah konsep fikiran atau tanggapan khayalan, dan tidak dapat dikenali oleh indera. kualiti, kuantiti dan sebagainya dan itu adalah konsep indera(tanggapan pancaindera). Sebagaimana telinga kita tidak dapat mengenal warna, dan mata kita tidak dapat mengenal bunyi, maka begitu jugalah mengenal Ruh dan Allah itu bukanlah dengan inderanya.
Allah itu adalah Pemerintah alam semesta raya ini. Dia tidak tunduk kepada ruang dan waktu, kuantiti dan kualiti, dan menguasai segala makhluknya. Begitu juga ruh itu memerintah badan dan anggotanya. Ia tidak bisa dilihat, tidak bisa dibagi-bagi atau dipecah-pecahkan dan tidak tunduk kepada tempat tertentu. karena bagaimana mungkin sesuatu yang tidak bisa dibagi-bagikan itu diletakkan ke dalam sesuatu yang bisa dibagi atau dipecah? Dari keterangan yang kita baca diatas itu, dapatlah kita lihat bagaimana benarnya sabda Nabi SAW.: "Allah jadikan manusia menurut rupanya".
Setelah kita mengenal Zat dan Sifat Allah hasil dari perhatian dan tafakur kita tentang zat dan sifat Ruh, maka sampailah pengenalan kita kepada cara-cara kerja dan pemerintahan Allah Ta’ala dan bagaimana ia mewakilkan Kuasa-Kuasanya kepada malaikat-malaikat, dan lain-lain, dengan cara memerhati dan bertafakur tentang bagaimana diri kita memerintah alam kecil kita sendiri.
Kita ambil satu contoh: Katakanlah seorang manusia hendak menulis nama Allah. Mula-mulanya kehendak atau keinginan itu terkandung dalam hatinya. Kemudian dibawa ke otak oleh daya ruhani. Maka bentuk perkataan "Allah" itu terdapat dalam khayalan atau fikiran otak itu. Selepas itu ia mengembara melalui saluran urat saraf, lalu menggerakkan jari dan jari itu mengerakkan pena. Maka tertulislah nama "Allah" di atas kertas, serupa seperti yang ada di dalam otak penulis itu.
Begitu juga apabila Allah Subahanahuwa Taala hendak menjadikan sesuatu perkara, Ia mula-mulanya nampak dalam peringkat keruhanian yang disebut didalam Quran sebagai "Al-'Arasy". Dari situ ia turun dengan urusan Keruhanian ke peringkat yang di bawahnya yang digelar "Al-Kursi". Kemudian bentuknya nampak dalam "Al-Luh Al-Mahfuz". Dari situ dengan perantaraaan tenaga-tenaga "Malaikat" terbentuklah perkara itu dan kelihatanlah di atas bumi ini dalam bentuk tumbuh-tumbuhan, pokok-pokok dan binatang; yang mewakilkan atau menggambarkan Iradat dan Ilmu Allah. Sebagaimana juga huruf-huruf yang tertulis, yang menggambarkan keinginan dan kemauan yang terbit dan terkandung dalam hati; dan bentuk itu dalam dalam otak penulis tadi.
Tidak ada orang yang tahu Hal Raja melainkan Raja itu sendiri. Allah telah memberi kita Raja dalam bentuk yang kecil yang memerintah kerajaan yang kecil. Dan ini adalah satu salinan kecil Diri(Zat)Nya dan KerajaanNya. Dalam kerajaan kecil pada manusia itu, Arash itu ialah Ruhnya; ketua segala Malaikat itu ialah hatinya; Kursi itu otaknya; Lauh Mahfuz itu ruang khazanah khayalan atau fikirannya. Ruh itu tidak bertempat dan tidak bisa dibagikan dan ia memerintah badanya; sebagaimana Allah memerintah Alam Semester Raya ini. Pendeknya, tiap-tiap orang manusia itu diamanahkan dengan satu kerajaan kecil dan diperintahkan supaya jangan lengah dan lalai mengatur kerajaan itu.
Berkenaan dengan mengenal ciptaan Allah Subhanahuwa Taala, ada banyak derajat pengetahuan. Ahli Ilmu Alam yang biasa adalah ibarat semut yang merangkak atas sekeping kertas dan memerhatikan huruf-huruf hitam terbentang di atas kertas itu dan merujukkan sebab kepada pena atau qalam itu saja.
Ahli Ilmu Falak adalah ibarat semut yang luas sedikit pandangannya dan nampak jari-jari tangan yang menggerakkan pena itu, yaitu ia tahu bahwa unsur-unsur itu adalah daya bintang-bintang, tetapi dia tidak tahu bahwa bintang itu adalah di bawah kuasa Malaikat.
Oleh karena berbeda-bedanya derajat pandangan manusia itu, maka tentulah timbul perbedaan hasil atau kesan. Mereka yang tidak memandang lebih jauh dari fenomena alam nyata ini adalah ibarat orang yang mengganggap hamba abdi yang paling rendah itu sebagai raja. Undang-undang alam nyata itu (Fenomena) itu mestilah tetap. Jika tidak, tidak adalah sains. Walau bagaimanapun, adalah salah besar menganggap hamba itu tuannya.
Karena ada perebedaan ini, maka pertengkaran akan terus terjadi. Ini adalah ibarat orang buta yang hendak mengenal gajah. Seseorang memegang kaki gajah itu lalu dikatakannya gajah itu seperti tiang. Seorang lain memegang gadingnya lalu katanya gajah itu seperti kayu bulat yang keras. Seorang lagi memegang telinganya lalu katanya gajah itu macam kipas. Tiap-tiap seorang mengganggap bagian-bagian itu sebagai keseluruhan. Dengan itu, ahli ilmu alam dan ahli ilmu Falak menyanggah hukum-hukum yang mereka dapat dari ahli-ahli hukum. Kesalahan dan sangkaan seperti itu terjadi juga kepada Nabi Ibrahim seperti yang tersebut dalam Al-Quran, Nabi Ibrahim menghadap kepada bintang, bulan dan matahari untuk disembah. Lama kelamaan beliau sadar siapa yang menjadikan semua-benda-benda itu, lalu bisa berkata, "Saya tidak suka kepada yang tenggelam."
Kita selalu mendengar orang merujuk kepada sebab yang kedua bukan kepada sebab yang pertama dalam hal apa yang digelar sakit. Misalnya; jika seseorang itu tidak lagi cenderung kepada keduniaan, segala keindahan tidak lagi dipedulikannya, dan tidak peduli apa pun, maka doktor mengatakan, "Ini adalah penyakit gundah gulana, dan ia perlu obat ini a"
Ahli fisika akan berkata "Ini adalah kekeringan otak yang disebabkan oleh cuaca panas dan tidak dapat dilegakan kecuali udara menjadi lembab."
Ahli nujum akan mengatakan bahwa itu adalah pengaruh bintang-bintang.
"Hanya itulah kebijaksanaanya mereka." Kata Al-Quran, tidaklah mereka tahu bahwa sebenarnya apa yang terjadi ialah: Allah Subahana Wataala memberi kebajikan orang yang sakit itu dan dengan itu memerintahkan hamba-hambanya seperti bintang-bintang atau unsur-unsur, mengeluarkan keadaan seperti itu kepada orang itu agar ia berpaling dari dunia ini mengadap kepada Tuhan yang menjadikannya. Pengetahuan tentang hakikat ini adalah sebuah mutiara yang amat bernilai dari lautan ilmu yang berupa Ilham; dan ilmu-ilmu yang lain itu jika dibandingkan dengan Ilmu Ilham ini adalah ibarat pulau-pulau dalam lautan Ilmu Ilham itu.
Doktor, Ahli Fizik dan Ahli Nujum itu memang betul dalam bidang ilmu mereka masing-masing. Tetapi mereka tidak tahu bahwa penyakit itu bisa dikatakan sebagai "Tali Cinta", yang dengan tali itu Allah menarik AuliaNya kepadaNya. Berkenaan ini Allah ada berfirman yang bermaksud;
"Aku sakit tetapi engkau tidak melawat Aku".
Sakit itu sendiri adalah satu bentuk pengalaman yang dengannya manusia itu bisa mencapai pengetahuan tentang Allah; sebagaimana firman Allah melalui mulut Rasul-rasulNya;
"Sakit itu sendiri adalah hambaKu dan disertakan kepada orang-orang pilihanKu".
Dengan ulasan-ulasan yang terdahulu, dapatlah kita meninjau lebih mendalam lagi maksud kata-kata yang selalu diucapkan oleh orang-orang yang beriman yaitu;
"Maha Suci Allah" (SubhanaLlah)
"Puji-pujian Bagi Allah (Alhamdulillah)
"Tiada Tuhan Melainkan Allah (La ilaha iLlaLlah)
"Allah Maha Besar" (Allahu Akbar).
Berkenaan dengan "Allahu Akbar" itu bukanlah bermaksud Allah itu lebih besar (secara fisik) dari makhluk, karena makhluk itu adalah penampakan-Nya sebagaimana cahaya memperlihatkan matahari. Tidaklah bisa dikatakan matahari itu lebih besar daripada cahayanya. Ia bermaksud yaitu Kebesaran Allah itu tidak dapat disukat dan diukur dan melampaui jangkauan kesedaran; dan kita hanya bisa membentuk gambaran yang tidak sempurna dan tidak nyata berkenaanNya.
Jika seorang kanak-kanak bertanya kepada kita untuk menerangkan enaknya mendapat pangkat yang tinggi, kita hanya dapat mengatakan seperti perasaan kanak-kanak itu tatkala sedang bermain bola, meskipun pada hakikat kedua-dua itu tidak ada persamaan langsung, kecuali hanya kedua-dua perkara itu termasuk dalam jenis kesenangan. Oleh yang demikian, kata-kata "Allahu Akbar" itu berarti Kebesaran itu melampaui semua kuasa pengenalan dan pengetahuan kita. Tidak sempurna pengenalan kita berkenaan Allah itu, bukan dengan pikiran saja tetapi adalah disertai oleh ibadat dan pengabadian kita.
Apabila seorang itu mati, maka ia berhubungan dengan Allah saja. Jika kita hidup dengan orang lain, kebahagiaan kita bergantung kepada derajat kemesraan kita terhadap orang itu. Cinta itu adalah benih kebahagiaan, dan Cinta kepada Allah itu dituju dan dibangun melalui ibadat. Ibadat dan sentiasa mengenang Allah itu memerlukan kita supaya bersikap sederhana dan mengekang kehendak-kehendak badan. Ini bukanlah berarti semua kehendak badan itu dihapuskan; karena itu akan menyebabkan punahnya manusia. Apa yang diperlukan ialah membatasi kehendak-kehendak badan itu. Oleh karena seseorang itu bukanlah Hakim yang paling bijak untuk mengadili dirinya sendiri tentang batas itu, maka ia lebih baik merundingi pemimpin-pemimpin keruhanian dalam perkara ini, dan hukum-hukum yang mereka bawa melalui Wahyi Ilahi menentukan batas yang harus diperhatikan dalam hal ini. Siapa yang melanggar batas berarti Menzholimi dirinya sendiri"(Al-Baqarah; 231).
Walaupun Al-Qur'an telah memberi keterangan yang nyata, masih ada juga orang yang melanggar batas karena kejahilan mereka tentang Allah dan kejahilan ini adalah karena beberapa sebab;
Pertama; ada golongan manusia yang terus mencari Allah melalui pikiran, lalu mereka membuat kesimpulan dengan mengatakan tidak ada Tuhan dan alam ini terjadi dengan sendirinya atau wujudnya tanpa permulaan. Mereka ini seperti orang yang melihat surat yang tertulis dengan indahnya, dan mereka mengatakan surat itu sedia tertulis tanpa penulis atau ada begitu saja.Orang yang seperti ini telah jauh tersesat dan tidak berguna berhujah dan bertengkar dengan mereka. Setengah daripada orang-orang seperti ini adalah Ahli Fizika dan Ahli Bintang yang telah kita sebutkan di atas tadi.
Ada pula setengah orang karena kejahilan tentang keadaan sebenarnya Ruh itu. Mereka menyangkal adanya hidup di Akhirat dan menyangkal manusia itu diadili di sana. Mereka anggap diri mereka itu satu taraf dengan binatang dan tumbuh-tumbuhan dan akan hancur begitu saja.
Ada juga orang yang percaya dengan Allah dan Hari Akhirat, tetapi kepercayaan atau Iman mereka itu sangat lemah. Mereka berkata kepada diri mereka sendiri;
"Allah itu Maha Agung dan tidak ada sangkut-paut dengan kita, walaupin kita sembah Dia atau tidak; tidak menjadi apa-apa kepadaNya".
Fikiran mereka ini seperti orang sakit yang disuruh makan ubat, tetapi ia berkata; "Apa untung atau ruginya doktor itu jika aku makan obat atau tidak makan obat?". Memang tidak terjadi apa-apa kepada doktor itu tetapi orang itulah yang akan bertambah sakit karenabodohnya. Badan yang sakit berakhir dengan mati. Maka Ruh atau Jiwa yang sakit berakhir dengan kesusahan dan siksaan di akhirat nanti, seperti firman Allah Taala dalam Al-Qur'an yang bermaksud;
"Hanya mereka yang kembali kepada Allah dengan hati yang Salim itulah yang akan terselamat".
Jenis orang yang tidak beriman yang keempat ialah mereka yang berkata;
"Hukum Syariat menyuruh kita jangan marah, jangan menurut nafsu, jangan bersikap munafik. Ini tidak mungkin karena sifat-sifat ini memang telahada semula jadi pada kita. Lebih baik tuan suruh saya membuat yang hitam itu jadi putih".
Mereka ini sebenarnya bodoh. Mereka jahil dengan hukum Syariat. Hukum Syariat tidak menyuruh manusia membuang sama sekali perasaan itu, tetapi hendaklah dikontrol supaya tidak melanggar batas yang dibenarkan. Supaya terhindar dari dosa besar, dan kita bisa memohon keampunan terhadap dosa-dosa kita yang kecil. Sedangkan Rasulullah ada bersabda;
"Saya ini manusia juga seperti kamu, dan marah juga seperti orang lain".
Firman Allah dalam Al-Qur'an;
"Allah kasih kepada mereka yang menahan kemarahan mereka".(Al-Imran:146)
Ini berarti bukan mereka yang tidak ada perasaan marah.
Golongan yang kelima ialah mereka yang menekankan Kemurahan Tuahn saja tetapi menepikan KeadilanNya, lalu mereka berkata kepada diri mereka sendiri;
"Kami buat apa saja karena Allah itu Maha Pemurah dan Maha Penyayang".
Mereka tidak ingat meskipun Allah itu Pengasih dan Penyayang, namun beribu-ribu manusia mati kelaparan dan karena penyakit. Meraka tahu, barang siapa hendak hidup atau hendak kaya, atau hendak belajar, mestilah jangan hanya berkata; "Allah itu Kasih Sayang". tetapi perlulah ia berusaha sungguh-sungguh. Meskipun ada firman Allah dalam Al-Qur'an; "Tiap-tiap makhluk yang hidup itu Allah beri ia rezeki"(Surah Hud:06); tetapi hendaklah juga ingat Allah juga berfirman; "Manusia tidak akan mendapat apa-apa kecuali dengan berusaha". Sebenarnya mereka yang berpendapat di atas itu adalah dipengaruhi oleh Syaitan dan mereka berkata di mulut saja, bukan di hati.
Golongan keenam pula menganggap mereka telah sampai ke taraf kesucian dan tidak berdosa lagi. Tetapi kalau anda layani mereka dengan kasar dan tidak hormat, anda akan dengar mereka marah dan bertahun-tahun mengatai anda. Dan jika anda ambil makanan sesuap saja yang patut, seluruh alam ini kelihatan gelap dan sempit pada perasaan mereka. Kalau pun mereka itu telah dapat menakluki hawa nafsu mereka, mereka tidak berhak menganggap dan mengatakan diri mereka itu tidak berdosa lagi, karena Nabi Muhammad SAW. sendiri, manusia yang paling tinggi darajatnya, sentiasa mengaku salah dan memohon ampun kepada Allah. Setengah daripada Rasul-rasul itu sangat takut berbuat dosa sehingga pada perkara- perkara yang halal pun mereka menghidarkan diri .
Diriwayatkan, suatu hari Nabi Muhammad SAW. telah diberi sebiji Tamar. Beliau enggan memakannya kerena beliau tidak pasti Tamar itu didapati secara halal atau tidak. Tetapi mereka menelan arak berbotol-botol banyaknya dan berkata mereka lebih mulia daripada Nabi. (Saya menggeletar semasa menulis ini). Pada hal sebutir Tamar pun tidak disentuh oleh Nabi jika belum pasti sama ada halal atau tidak. Sesungguhnya mereka telah diseret dan disesatkan oleh Iblis.
Aulia Allah yang sebenarnya mengetahui bahwa orang yang tidak menundukkan hawa nafsunya tidak patut dipanggil "orang" dan orang Islam yang sebenarnya ialah mereka yang dengan rela hati, tidak mahu melanggar Syariat. Mereka yang melanggar Syariat adalah sebenarnya dipengaruhi oleh Syaitan dan mereka ini sepatutnya bukan dinasihati dengan pena, tetapi adalah sewajarnya dengan pedang. Sufi-sufi yang palsu ini kadang-kadang berpura-pura tenggelam dalam lautan keheranan atau tidak sadar, tetapi jika anda tanya mereka apakah yang mereka heirankan itu, mereka tidak tahu. Sepatutnya mereka disuruh menungkan keheranan sebanyak-banyak yang mereka suka, tetapi di samping itu hendaklah ingat bahwa Allah Subhanahuwa Taala itu adalah Pencipta mereka dan mereka itu adalah hamba Allah saja.
BIOGRAFI AZ-ZAMAKHSYARI
By. Moh. Subhan

Riwayat Hidupnya
Dia adalah Abul Qasim Mahmud Bin Umar Al-Khawarizmi Az-Zamakhsyari. Di lahirkan pada 27 Rajab 467 H. Di Zamakhsyar, sebuah perkampungan besar di kawasan khawarizmi (Turkistan). Dia mulai belajar di negeri sendiri, kemudian di Bukhara, dan belajar sastra kepada Syeih Mansyur Abi Mudhar. Kemudian pergi ke Mekkah dan menetap cukup lama sehingga memperoleh julukan Jarullah (Tetangga Allah). Dan selama tinggan di kota Mekkah itulah dia menulis Al-Kasysyaf ‘An Haqa’iqit Tanzil Wa ‘Unuyil Aqawil Fi Wujuhit Ta’wil. Dia wafat pada 538 H, di Jurjaniah Khawarizm setelah kembali dari Mekkah.
Beliau termasuk tokoh aliran Muktazilah yang membela mati-matian madzhabnya. Ia memperkuatnya dengan kekuatan hujjah yang dimilikinya.
Dalam hal ini, imam adz-Dzahabi di dalam kitabnya “al-Miizaan” (IV:78) berkata, “Ia seorang yang layak (diambil) haditsnya, tetapi ia seorang penyeru kepada aliran muktazilah, semoga Allah melindungi kita. Karena itu, berhati-hatilah terhadap kitab Kasysyaaf karyanya.”

Keilmuan Dan Karyanya
Zamakhsyari adalah salah seorang imam dalam bidang ilmu bahasa, ma’anai dan bayan. Dia juga merupakan ulama yang genius dan sangat ahli dalam bidang ilmu nahwu, bahasa, sastra dan tafsir. Pendapat-pendapatnya tentang ilmu bahasa arab diakui dan dipedomani oleh para ahli bahasa karena keorisinilan dan kecermatannya.
Bagi orang yang membaca kitab-kitab ilmu nahwu dan balaghah tentu sering menemukan keterangan-keterangan yang di kutip dari Zamakhsyari sebagai hujjah. Misalnya mereka mengatakan “Zamakhsyari telah berkata dalam kitab al-kasysyaf atau dalam asasul balaghah...” Ia adalah orang yang mempunyai pendapat dan hujjah sendiri dalam banyak masalah bahasa arab, bukan tipe orang yang suka mengikuti langkah orang lain yang hanya menghimpun atau mengutip saja, tetapi dia mempunyai pendapat orisinil yang jejaknya di tiru dan diikuti oleh banyak orang. Dia menpunyai banyak karya dalam bidang hadits, tafsir, nahwu, bahasa, ma’ani dan lain sebagainya. Diantara karangannya adalah :
• Al-Khasysyaf, tentang Tafsir Al-Qur’an
• Al-Fa’iq, tentang Tafsir Hadits
• Al-Minhaj, tentang Ushul
• Al-Mufassal, tentang Nahwu
• Asasul Balaghah, tentang Bahasa
• Ru’usul Masailil Fiqhiyah, tentang Fiqh
Kitab al-khasysyaf karya az-Zamakhsyari adalah sebuah kitab tafsir paling masyhur diantara sekian banyak tafsir yang disusun oleh mufassir bir-ra’-yi yang mahir dalam bidang bahasa. Al-alusi, Abus Su’ud, an-Nasafi dan para mufassir lain banyak mengutib dari kitab tersebut, tetapi tanpa menyebut sumbernya

Mazhab Fiqih Dan Aqidahnya
Zamakhsyari bermazhab Hanafi dan beraqidah paham Mu’tazilah. Ia menakwilkan ayat-ayat al-qur’an sesuai dengan mazhab dan aqidah yang dianutnya dengan cara yang hanya di ketahui oleh orang yang ahli, dan menamakan kaum mu’tazilah sebagai “saudara seagama dan golongan utama yang selamat dan adil ”.
Kitab Karangannya, Al-Kasysyaf ‘An Haqa’iqit Tanzil Wa ‘Unuyil Aqawil Fi Wujuhit Ta’wil
Kitab tafsir ini disusun oleh Az-Zamakhsyari selama tiga tahun, mulai dari tahun 526 H sampai dengan tahun 528 H, di Makkah al-Mukarramah, ketika ia berada di sana untuk melakukan ibadah haji yang kedua kalinya. Hal itu diketahui dari pengakuannya sendiri yang dituangkan pada muqaddimah tafsirnya. Dalam hal ini, ia mengatakan bahwa lama penyusunan kitabnya sama dengan lama masa pemerintahan Abu Bakar As-Shiddiq.
Tafsir al-Kasysyaf adalah salah satu kitab tafsir bi al-ra’yi yang terkenal, yang dalam pembahasannya menggunakan pendekatan bahasa dan sastra. Penafsirannya kadang ditinjau dari arti mufradat yang mungkin, dengan merujuk kepada ucapan-ucapan orang Arab terhadap syair-syairnya atau definisi istilah-istilah yang populer. Kadang penafsirannya juga didasarkan pada tinjauan gramatika atau nahwu.
Kitab tafsir ini merupakan salah satu kitab tafsir yang banyak beredar di dunia Islam, termasuk di Indonesia. Sebagai salah satu kitab tafsir yang penafsirannya didasarkan atas pandangan mu'tazilah, ia dijadikan corong oleh kalangan Mu’tazilah untuk menyuarakan fatwa-fatwa rasionalnya. Al-Fadhil Ibnu ‘Asyur berpendapat bahwa al-Kasysyaf ditulis antara lain untuk menaikkan pamor Mu’tazilah sebagai kelompok yang menguasai balaghah dan ta’wil.
Namun demikian, kitab ini telah diakui dan beredar luas secara umum di berbagai kalangan, tidak hanya di kalangan non-Ahlussunnah wal Jama’ah, tetapi juga di kalangan Ahlusunnah wal Jama’ah. Ibnu Khaldun misalnya, ia mengakui keistimewaan al-Kasysyaf dari segi pendekatan sastra (balaghah)-nya dibandingkan dengan sejumlah karya tafsir ulama mutaqaddimin lainnya. Menurut Muhammad Zuhaili, kitab tafsir ini yang pertama mengungkap rahasia balaghah al-Qur'an, aspek-aspek kemukjizatannya, dan kedalaman makna lafal-lafalnya, di mana dalam hal inilah orang-orang Arab tidak mampu untuk menentang dan mendatangkan bentuk yang sama dengan al-Qur’an. Lebih jauh, Ibnu ‘Asyur menegaskan bahwa mayoritas pembahasan ulama Sunni mengenai tafsir al-Qur’an didasarkan pada tafsir az-Zamakhsyari. Al-Alusi, Abu al-Su’ud, al-Nasafi, dan para mufassir lain merujuk kepada tafsirnya.
Di samping itu, ada juga beberapa kitab yang menyoroti aspek-aspek kitab tafsir ini, di antaranya: Al-Kafi asy-Syafi fi Takhrij Ahadis al-Kasysyaf (Uraian Lengkap Mengenai Takhrij Hadis pada Tafsir Al-Kasysyaf) oleh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, Al-Inshaf fi ma Taqaddamahu al-Kasysyaf min I’tizal (Menyingkap pandangan-pandangan Mu'tazilah dalam Tafsir Al-Kasysyaf) oleh Imam Nashiruddin Ahmad bin Muhammad dan Ibnu Munir al-Iskandari, Syarh Syawahid al-Kasysyaf (penjelasan mengenai syair-syair dalam tafsir al-Kasysyaf) oleh Muhbibuddin Affandi.
Tafsir al-Kasysyaf yang beredar sekarang ini terdiri atas empat jilid disertai dengan tambahan tahqiq oleh ulama. Jilid pertama mencakup uraian mengenai muqaddimah yang oleh az-Zamakhsyari disebut sebagai khutbah al-Kitab yang berisi beberapa penjelasan penting tentang penyusunan kitab tafsir ini. Jilid ini pula yang memuat tafsir mulai dari surah al-Fatihah sampai surah an-Nisa (surah kelima). Jilid kedua berisi penafsiran yang terdapat pada surah al-An’am sampai pada surah al-Anbiya (surah ke-21), jilid ketiga berisi penafsiran ayat-ayat yang terdapat dalam surah al-Hajj sampai dengan ayat-ayat yang terdapat di dalam surah al-Hujurat (surah ke-49), dan jilid keempat berisi penafsiran ayat-ayat yang terdapat dalam surah Qaf sampai dengan ayat-ayat yang terdapat di dalam surah an-Nas (surah ke-114).
Az-Zamakhsyari melakukan penafsiran secara lengkap terhadap seluruh ayat Al-Qur'an, dimulai ayat pertama surah al-Fatihah sampai dengan ayat terakhir surah an-Nas. Dari sisi ini dapat dikatakan bahwa penyusunan kitab tafsir ini dilakukan dengan menggunakan metode tahlili, yaitu suatu metode tafsir yang menyoroti ayat-ayat Al-Qur'an dengan memaparkan segala makna dan aspek yang terkandung di dalamnya sesuai urutan bacaan dalam mushaf Utsmani. Az-Zamakhsyari sebenarnya tidak melaksanakan semua kriteria tafsir dengan metode tahlili, tetapi karena penafsirannya melakukan sebagian langkah-langkah itu, maka tafsir ini dianggap menggunakan metode tafsir tahlili.
Aspek lain yang dapat dilihat, penafsiran Al-Kasysyaf juga menggunakan metode dialog, di mana ketika Az-Zamakhsyari ingin menjelaskan makna satu kata, kalimat, atau kandungan satu ayat, ia selalu menggunakan kata in qulta (jika engkau bertanya). Kemudian, ia menjelaskan makna kata atau frase itu dengan ungkapan qultu (saya menjawab). Kata ini selalu digunakan seakan-akan ia berhadapan dan berdialog dengan seseorang atau dengan kata lain penafsirannya merupakan jawaban atas pertanyaan yang dikemukakan. Metode ini digunakan karena lahirnya kitab Al-Kasysyaf dilatarbelakangi oleh dorongan para murid Az-Zamakhsyari dan ulama-ulama yang saat itu membutuhkan penafsiran ayat dari sudut pandang kebahasaan, sebagaimana diungkapkan sendiri dalam muqaddimah tafsirnya:
"Sesungguhnya aku telah melihat saudara-saudara kita seagama yang telah memadukan ilmu bahasa Arab dan dasar-dasar keagamaan. Setiap kali mereka kembali kepadaku untuk menafsirkan ayat al-Qur'an, aku mengemukakan kepada mereka sebagian hakikat-hakikat yang ada di balik hijab. Mereka bertambah kagum dan tertarik, serta mereka merindukan seorang penyusun yang mampu menghimpun beberapa aspek dari hakikat-hakikat itu. Mereka datang kepadaku dengan satu usulan agar aku dapat menuliskan buat mereka penyingkap tabir tentang hakikat-hakikat ayat yang diturunkan, inti-inti yang terkandung di dalam firman Allah dengan berbagai aspek takwilannya. Aku lalu menulis buat mereka (pada awalnya) uraian yang berkaitan dengan persoalan kata-kata pembuka surat (al-fawatih) dan sebagian hakikat-hakikat yang terdapat dalam surah al-Baqarah. Pembahasan ini rupanya menjadi pembahasan yang panjang, mengundang banyak pertanyaan dan jawaban, serta menimbulkan persoalan-persoalan yang panjang".
Penyusunan kitab tafsir al-Kasysyaf tidak dapat dilepaskan dari atau merujuk kepada kitab-kitab tafsir yang pernah disusun oleh para mufassir sebelumnya, baik dalam bidang tafsir, hadis, qira’at, maupun bahasa dan sastra.
Pada sisi lain karya az-Zamakhsyari ini banyak dijadikan sebagai obyek kajian para ulama, baik ulama mutaakhirin maupun para ulama mutaqaddimin, yang ditujukan terhadap berbagai aspeknya. Dari berbagai kajian tersebut diketahui bahwa di antara para ulama ada juga yang memberikan penilaian negatif, di samping yang positif. Komentar-komentar tersebut dapat dilihat antara lain di dalam kitab-kitab yang secara lengkap membahas mengenai hal itu, antara lain: Manhaj az-Zamakhsyari fi Tafsir al-Qur'an wa Bayan I’jazi karya Musthafa Juwaini, At-Tafsir wa al-Mufassirun karya Adz-Dzahabi, Manahil al-'Irfan fi ‘Ulum al-Quran karya Muhammad Abdul Adzim az-Zarqani, Balaghah al-Qur’aniyyah fi Tafsir az-Zamakhsyari wa Atsaruhu fi Dirasat al-Balaghiyyah karya Muhammad Abu Musa.
Dari kajian yang dilakukan oleh Musthafa al-Juwaini terhadap kitab tafsir Al-Kasysyaf tergambar delapan aspek pokok yang dapat ditarik dari kitab tafsir itu, yaitu:
1. Az-Zamakhsyari telah menampilkan dirinya sebagai seorang pemikir Mu’tazilah;
2. Penampilan dirinya sebagai penafsir atsari, yang berdasarkan atas hadis Nabi;
3. Penampilan dirinya sebagai ahli bahasa;
4. Penampilan dirinya sebagai ahli nahwu;
5. Penampilan dirinya sebagai ahli qira’at,
6. Penampilan dirinya sebagai seorang ahli fiqh,
7. Penampilan dirinya sebagai seorang sastrawan, dan
8. Penampilan dirinya sebagai seorang pendidik spiritual.
Dari kedelapan aspek itu, menurut al-Juwaini, aspek penampilannya sebagai seorang Mu’tazilah dianggap paling dominan. Apa yang diungkapkan oleh al-Juwaini di atas menggambarkan bahwa uraian-uraian yang dilakukan oleh az-Zamakhsyari dalam kitab tafsirnya banyak mengambarkan berbagai pandangan yang mendukung dan mengarah pada pandangan-pandangan Mu'tazilah.
Begitu juga halnya dengan az-Zarqani yang menguatkan asumsi itu. Namun demikian, ia juga mencatat beberapa keistimewaan yang dimiliki tafsir Al-Kasysyaf, antara lain: Pertama, terhindar dari cerita-cerita israiliyyat; Kedua, terhindar dari uraian yang panjang; Ketiga, dalam menerangkan pengertian kata berdasarkan atas penggunaan bahasa Arab dan gaya bahasa yang mereka gunakan; Keempat, memberikan penekanan pada aspek-aspek balaghiyyah, baik yang berkaitan dengan gaya bahasa ma’aniyyah maupun bayaniyyah; dan Kelima, dalam melakukan penafsiran ia menempuh metode dialog.
Zamakhsyari adalah seorang penganut paham dan bermazhab Hanafi, ia menulis al-khasysaf untuk mendukung akidah dan mazhabnya. Paham kemu’tazilahan dalam tafsirnya itu telah diungkapkan dan diteliti oleh ‘Allamah Ahmad Annayyir yang di tuangkan dalam bukunya al-Intisaf.
Di dalam kitab ini an-Nayyir menyerang az-zamakhsyari dengan mendiskusikan masalah akidah mazhab Mu’tazilah yang dikemukakannya dan mengemukakan pandangan yang berlawanan dengannya, dia juga mendiskusikan masalah-masalah kebahasaan.
Paham kemu’tazilahan Zamakhsyari dalam tafsirnya membuktikan kecerdasan, kecemerlangan dan kemahirannya. Ia mampu mengungkapkan isyarat-isyarat yang jauh agar terkandung di dalam makna ayat guna membela kaum Mu’tazilah dan menyanggah lawan-lawannya. Tetapi dari aspek kebahasaan ia berjasa telah menyingkap keindahan al-qur’an dan daya tarik balaghahnya. Hal ini karena dia memiliki pengetahuan yang sangat luas tentang ilmu balaghah, Bayan, nahwu dan sharaf.
Dia pernah menyatakan bahwa orang yang menaruh perhatian terhadap tafsir tidak akan dapat menyelami hakikatnya sendirikecuali jika dia telah menguasai dua ilmu khusus bagi al-qur’an yaitu, ilmu ma’ani dan ilmu bayan. Zamakhsyari telah cukup lama menyelami keduanya, bersusah payah dalam menggalinya, menderita karenannya serta di dorong oleh cita-cita luhur untuk memakahi kelembutan-kelembutan hujjah Allah dan oleh hasrat ingin mengetahui mukjizat Rasulullah.
Ibnu Khaldun memberikan analisa dan penilaian terhadap Al-Khasysyaf karya Zamakhsyari tersebut di saat membicarakan tentang rujukan tafsir mengenai pengetahuan tentang bahasa, I’rab, dan balaghah. Dia mengatakan :
Di antara kitab tafsir paling baik yang mencakup bidang tersebut ialah kitab Al-Khasysyaf karya Zamakhsyari, seorang penduduk khawarizm di Irak.hanya saja pengarangnya termasuk pengikut fanatic mu’tazilah. Karena itulah ia senantiasa mendatangkan argementasi-argumentasi untuk membela mazhabnya yang rusak setiap ia menerangkan ayat-ayat Alqur’an dari segi balaghah. Cara demikian bagi para penyelidik dari kaum ahli sunnah di pandang sebagai penyimpangan dan, bagi jumhur, merupakan manipulasi terhadap rahasia dan kedudukan al-Quran. Namun demikian mereka tetap mengakui kekokohan langkahnya dalam hal berkaitan dengan bahasa dan balaghah. Tetapi jika orang membacanyatetap berpijak pada mazhab sunni dan menguasai hujah-hujahnya, tentu ia akan selamat dari perangkap-perangkapnya. Oleh karena itu, kitab tersebut perlu di baca mengingatkeindahan dan keunikan seni bahasanya.
Belakangan ini munculsebuah karya salah seorang bangsa Irak, Syafruddi at-Tayyibi, penduduk Tauriz Irak ‘ajam. Di dalam karya tersebut ia mensyarahkan kitab zamakhsyari, meneliti lafaz-lafaznyam membeberkan mazhab mu’tazilahnyadengan mengemukakan dalil-dalil yang membuktian kepalsuannya dan menjelaskan bahwa aspek balaghah itu hanya terletak pada ayat menurut pandangan ahli sunnah, bukan menurut pandangan kaum mu’tazilah. Sungguh sebemnarnya dia telah berbuat baik dalam hal tersebut sesuai dengan kemampuannya serta mencukupi pula seni-seni balaghahnya. Ya, kita tahu benar bahwa bagaimanapun di atas orang pandai masih ada yang lebih pandai.
Al-Maktabah at-Tajariyah Mesir telah menerbitkan al-Khasysyaf cetakan terakhir yang diterbitkan oleh Mustafa Husein Ahmad dan di beri lampiran empat buah kitab.
• Al-Intisaf oleh an-Nayyir
• Asy-Syafi fi Takhriji Ahaadisil Khasysyaf oleh Al-Hafiz Ibnu Hajar Al’asqalani
• Hasyifah Tafsir al-Khasysyaf oleh Syaikh Muhammad ‘Ulyan al-Marzuki, dan
• Masyahidul Insaf ‘ala Syawahidil khasysyaf juga oleh al-Marzuki
Kitab terakhir inilah yang menunjukkan bahwa tafsir az-Zamakhsyari mengandung banyak akidah Mu’tazilah yang diungkapkan secara tersirat.

KESIMPULAN

Dari hasil kajian terhadap karya-karya Az-Zamakhsyari, para pengkaji dapat menarik kesimpulan-kesimpulan tersendiri, baik tentang kepribadiannya maupun tentang kedalaman ilmu dan keistimewaan karya itu sendiri. As-Sam’ani misalnya, berkata: “Az-Zamakhsyari adalah orang yang dapat dijadikan contoh karena kedalaman ilmu pengetahuannya mengenai sastra dan tata bahasa Arab”. Pujian ini sangat berkaitan dengan kedalaman ilmu beliau dalam bidang bahasa dan sastra. Pernyataan itu wajar ditujukan kepadanya, karena memang para ulama mengakui kapabilitas tokoh ini dalam ilmu bahasa. Hal yang sama juga telah dikemukakan oleh Ibnu al-Anbari, dengan menyatakan bahwa az-Zamkhsyari adalah pakar nahwu. Kemudian, Ibnu Kalikan memuji kedalaman ilmu yang dimiliki oleh az-Zamkhsyari seraya mengatakan bahwa ia adalah ulama besar pada masanya. Ia menjadi tempat bertanya dan menjadi rujukan, sehingga ia selalu didatangi oleh para ulama untuk menimba ilmu pengetahuan. Begitulah pujian yang menempatkan Az-Zamakhsyari sebagai narasumber pada masanya, bahkan pada masa sesudahnya.